ESDM Tak Khawatir Impor 'Ore' Nikel 15 Juta Ton dari Filipina karena untuk Hilirisasi
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara (Minerba) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Tri Winarno menegaskan pemerintah tidak khawatir terhadap meningkatnya impor bijih (ore) nikel dari Filipina yang diperkirakan mencapai 15 juta ton pada tahun ini.
Menurut Tri, impor tersebut justru bertujuan mendukung kebutuhan bahan baku industri pengolahan dan pemurnian (smelter) di dalam negeri, sejalan dengan agenda hilirisasi nasional. “Enggak, enggak (khawatir). Tujuannya untuk industrialisasi. Kan industrinya di Indonesia,” ujar Tri Winarno saat ditemui di Jakarta, Jumat (13/2/2026).
Baca Juga
Margin Cenderung Menguat, Saham ANTM dan NCKL Jadi Pilihan Sektor Nikel
Dia menjelaskan, selama proses pengolahan dilakukan di dalam negeri, maka nilai tambah dan efek berganda (multiplier effect) tetap dinikmati Indonesia. Dengan demikian, impor bahan mentah tidak bertentangan dengan kebijakan hilirisasi yang tengah digencarkan pemerintah.
Tri mencontohkan praktik perdagangan global ketika sejumlah negara mengimpor bahan baku dari negara lain untuk kemudian diolah dan menghasilkan produk bernilai tambah tinggi di dalam negeri.
“Kalau misalnya kita lihat negara-negara lain misalnya, dulu Prancis impor ore dari Indonesia terus kemudian kita banned, dia protes. Kan ya industrinya di negara itu saya rasa. Jadi multiplier effect-nya kita dapat gitu,” sebut dia.
Baca Juga
Harita (NCKL) dan Babak Baru Industri Nikel Indonesia Hadapi Era Terkini EV
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), impor bijih nikel Indonesia mencapai 15,84 juta ton pada 2025. Dari jumlah tersebut, sebanyak 97% atau sekitar 15,33 juta ton diimpor dadri Filipina. “Naik (impor bijih nikel dari Filipina), tapi enggak begitu gede,” kata Tri Winarno.
Kenaikan impor ini sejalan dengan meningkatnya kebutuhan bahan baku smelter nikel domestik, terutama untuk mendukung produksi feronikel, nikel pig iron (NPI), hingga bahan baku baterai kendaraan listrik.
Salah satu yang getol melakukan hilirisasi adalah BUMN tambang MIND ID untuk menjadi mesin pencipta nilai tambah. MIND ID berkomitmen, hilirisasi tidak lagi sekadar proyek fisik, melainkan strategi mengubah komoditas mentah menjadi aset industri bernilai tinggi melalui pembangunan smelter serta integrasi rantai pasok.
Transformasi itu dipandang sebagai strategi jangka panjang untuk memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global, terutama pada komoditas strategis yang kini terintegrasi dengan industri pengolahan domestik.

