Eja-Ice, Aruna, dan Awina Teken MoU Strategis, Membangun Cold Chain Tenaga Surya Nol Emisi
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Kolaborasi lintas negara dan lintas sektor untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus menekan emisi karbon resmi dimulai. Perusahaan teknologi cold chain berbasis Inggris, Eja-Ice, bersama PT Aruna Jaya Nuswantara (Aruna), salah satu platform rantai pasok perikanan digital terbesar di Indonesia, serta PT Awina Sinergi International (Awina), mitra implementasi energi terbarukan, menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) strategis untuk mengimplementasikan infrastruktur cold chain bertenaga surya nol emisi di berbagai wilayah Indonesia.
Penandatanganan yang berlangsung di Mandarin Oriental Jakarta pada Rabu (11/02/2026) tersebut merupakan bagian dari inisiatif UK–Indonesia Energy Access Collaboration Building, sebuah kerangka kerja yang mendorong kemitraan energi bersih dan pembangunan berkelanjutan antara Inggris dan Indonesia. Kerja sama ini menandai upaya konkret mengintegrasikan teknologi energi surya dengan sistem logistik rantai dingin guna menjawab tantangan ganda: krisis iklim dan kehilangan pangan di sektor perikanan.
Dalam keterangan resminya, para pihak menjelaskan bahwa penggantian sistem pendingin berbasis genset diesel dengan sistem fotovoltaik surya (PV) yang dilengkapi penyimpanan baterai berpotensi menurunkan lebih dari 1.000 ton emisi CO₂ per megawatt kapasitas terpasang setiap tahun. Selain menghilangkan emisi langsung dari penggunaan bahan bakar fosil di lokasi operasional, sistem ini juga mencegah pembusukan hasil tangkapan yang menghasilkan gas metana—salah satu gas rumah kaca paling kuat—sehingga berkontribusi langsung terhadap komitmen mitigasi perubahan iklim Indonesia di tingkat global.
Urgensi proyek ini juga didorong oleh tingginya angka kehilangan pascapanen di sektor perikanan nasional yang dapat mencapai 20–30% akibat terbatasnya infrastruktur cold chain yang andal. Dengan hadirnya penyimpanan dingin berbasis tenaga surya, pembusukan hasil tangkapan diharapkan dapat ditekan secara signifikan, pendapatan nelayan meningkat melalui perbaikan kualitas dan nilai jual produk, serta akses pasar ekspor menjadi lebih terbuka. Secara ekonomi, pengurangan kehilangan pangan tersebut diperkirakan dapat menghasilkan nilai tambah mulai dari ratusan ribu hingga beberapa juta dolar AS per tahun, tergantung pada skala implementasi di lapangan.
CEO Eja-Ice, Yusuf Bilesanmi Oladipupo, menyebut kolaborasi ini sebagai terobosan penting bagi sistem iklim dan pangan Indonesia. “Kemitraan ini merupakan terobosan bagi sistem iklim dan pangan di Indonesia, dengan menggabungkan energi surya dan infrastruktur cold chain untuk menurunkan emisi sekaligus memperkuat mata pencaharian masyarakat,” ujarnya.
Baca Juga
Pemerintah Tegaskan Pembangkit Nuklir Jadi Opsi Strategis Menuju 'Net Zero Emission'
Sementara itu, CEO Aruna Farid Naufal Aslam menegaskan bahwa akses cold chain yang andal akan membuka peluang lebih luas bagi ribuan nelayan untuk berpartisipasi dalam pasar nasional dan global. Menurutnya, integrasi teknologi pendingin tenaga surya dengan jaringan agregasi dan ketertelusuran digital Aruna akan memperkuat posisi produk perikanan Indonesia dalam rantai pasok global.
CEO Awina Ananda Setiyo Ivannanto menambahkan bahwa pihaknya siap memimpin implementasi teknis dan operasional di lapangan, termasuk koordinasi regulasi dan pemberdayaan masyarakat pesisir. “Awina bangga dapat mengimplementasikan solusi energi terbarukan yang menghadirkan dampak lingkungan, sosial, dan ekonomi yang terukur bagi komunitas pesisir Indonesia,” katanya.
Penandatanganan MoU turut dihadiri berbagai institusi yang berperan dalam pengembangan ekosistem energi bersih dan rantai pasok berkelanjutan, antara lain perwakilan Kedutaan Besar Inggris di Jakarta, Innovate UK, Asosiasi Nazhir Indonesia, SPIL Ventures, Universitas Negeri Gorontalo, Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI), serta Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN). Para pihak juga memulai pembahasan inisiasi proyek percontohan bersama Universitas Hasanuddin, Bank Syariah Indonesia, Kementerian Desa, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, serta Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas).
Kolaborasi ini memperlihatkan bagaimana teknologi bersih, jaringan rantai pasok digital, dan kemitraan lintas sektor dapat berjalan seiring untuk mendorong aksi iklim, memperkuat ketahanan pangan, serta menciptakan pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif di wilayah pesisir dan kepulauan Indonesia.

