Harga Emas Dinilai Masih Tertahan Pekan Depan, Pasar Tunggu Arah Suku Bunga Global
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Harga emas global bergerak fluktuatif menjelang pekan perdagangan baru seiring dinamika suku bunga global, geopolitik, dan sentimen pasar keuangan. Investor menunggu arah kebijakan bank sentral. Sementara tekanan eksternal dan kebijakan global masih menjadi faktor dominan yang membentuk pergerakan emas dalam jangka pendek.
Meski potensi kenaikan terbuka, harga emas dinilai masih tertahan.
Pengamat pasar komoditas Ibrahim Assuaibi menjelaskan pergerakan harga emas global dalam beberapa waktu terakhir masih dipengaruhi dinamika global dan sentimen investor.
Baca Juga
“Kemarin harga emas dunia di penutupan Sabtu (7/2/2026) di US$ 4.964 per troy ons. Kemudian logam mulian ditutup di Rp 2,761 juta per gram. Nah, apabila harga emas dunia turun, support pertamanya itu di US$ 4.831. Kemudian logam mulianya di Rp 2,725 juta per gram. Jika turun, support keduanya US$ 4.718, sedangkan logam mulia turun ke Rp 2,620 juta per gram," kata Ibrahim, Mimggu (8/2/2026).
Apabila harga emas dunia naik, resistance pertama itu di US$ 5.057 , kemudian logam mulia di Rp 2,800 juta per gram. "Apabila naik kembali, resistan kedua yaitu di US$ 5.170 dan logam mulia di Rp 2,900 juta per gram.
Sentimen Global dan Suku Bunga
Ibrahim menjelaskan fluktuasi harga emas global masih sangat dipengaruhi dinamika data ekonomi dan kebijakan bank sentral. “Apa yang menyebabkan fluktuasi harga emas dunia dan logam mulia sampai saat ini? Yang pertama, ditundannya rilis data tenaga kerja AS Januari. Yang tadinya Jumat (6/2/2026), kemudian di 11 (Februari). Data tenaga kerja itu bisa melihat sejauh mana Bank Sentral Amerika (The Fed) akan menurunkan suku bunga atau mempertahankan suku bunga,” kata Ibrahim.
Ia menambahkan faktor kebijakan moneter global juga berperan besar. “Yang kedua, Bank of England, kemudian Bank Sentral Eropa masih mempertahankan suku bunga melihat kondisi perekonomian secara global,” kata dia.
Selain faktor ekonomi, kondisi geopolitik dinilai turut memengaruhi pergerakan emas. Untuk permasalahan di Timur Tengah sedikit mereda pasca-pertemuan antara delegasi Amerika dan Iran mengenai reaktor nuklir.
"Walaupun pemimpin Iran, Ayatullah Khomeini berulang kali mengatakan kalau Amerika melakukan penyerangan, Iran akan membalas terhadap pangkalan-pangkalan Amerika di Timur Tengah. Nah, ini pun juga masih belum sedikit mengangkat sentimen positif,” kata dia.
Baca Juga
Ia juga menyoroti dinamika politik global lain. Di Eropa, Trump mengingatkan pada Mei-Juni 2026 perdamaian antara Rusia dan Ukraine sudah terjadi. Di sisi lain, Trump mengkritik keras terhadap Tiongkok yang melakukan uji coba nuklir secara diam-diam, walaupun akhirnya dibantah oleh PM China Xi Jinping.
Meski potensi kenaikan terbuka, harga emas dinilai masih tertahan karena terpilihnya Kevin Walsh sebagai calon ketua Fed. Ia menilai pasar masih bersikap hati-hati terhadap arah kebijakan suku bunga.
“Pasar masih apatis terhadap Kevin Walsh yang selalu menginginkan suku bunga tinggi. Ini pun sebenarnya sudah dibantah Trump bahwa kalau tidak mengikuti keinginan Trump, kemungkinan akan dipecat. Tetapi rupanya pasar ini masih cenderung negatif, taking profit terhadap harga emas,” kata Ibrahim.

