Fundamental Kokoh, Harga Emas Bisa Tembus US$ 7.000 pada 2026
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Harga emas kembali menjadi sorotan global setelah menembus lebih US$ 5.000 per ons dan mendominasi diskusi para pelaku industri dalam Konferensi Investasi Sumber Daya Vancouver yang berlangsung pada Sabtu–Minggu (25/1/2026–26/1/2026), dengan fokus pada prospek pasar, peran bank sentral, serta implikasinya bagi investor dan sistem moneter global.
Potensi harga emas bisa mencapai US$ 7.000 per ons pada 2026.
Dilansir Nasdaq, Minggu (8/2/2026), konferensi tersebut menghadirkan panel “Prakiraan Emas” yang dipandu Direktur Media Global ITM Trading Daniela Cambone, serta mempertemukan sejumlah tokoh industri, seperti CEO dan Pendiri GoldMining Alastair Still, Ketua dan CEO Gold Royalty David Garofalo, mitra Von Greyerz Matthew Piepenburg, penulis Rich Dad Poor Dad Robert Kiyosaki, dan mitra Incrementum Ronald-Peter Stöferle untuk membahas dinamika pasar emas dan arah jangka panjangnya.
Bank sentral menopang harga emas
Kenaikan harga emas sepanjang 2025 hingga awal 2026 didorong oleh sejumlah faktor, terutama pembelian berkelanjutan oleh bank sentral di berbagai negara. Laporan tren permintaan emas terbaru dari World Gold Council (WGC), lembaga riset industri emas global, menunjukkan bank sentral membeli total 863 metrik ton emas sepanjang tahun lalu. Angka ini memang lebih rendah dibandingkan lebih dari 1.000 metrik ton dalam 3 tahun sebelumnya, tetapi tetap jauh di atas rata-rata historis.
WGC dan para panelis konferensi meyakini pembelian emas oleh bank sentral akan tetap tinggi pada 2026, sehingga memberikan dukungan kuat terhadap harga logam mulia tersebut. Langkah ini dipicu upaya diversifikasi cadangan devisa dari aset berdenominasi dolar AS, seperti obligasi pemerintah, yang dinilai semakin berisiko akibat defisit fiskal tinggi dan lonjakan utang selama 2 dekade terakhir.
Kepercayaan terhadap aset dolar juga terpengaruh kebijakan Amerika Serikat (AS) pascainvasi Rusia ke Ukraina pada 2022. “Sejak 2014, bank sentral telah melakukan penjualan bersih obligasi Pemerintah AS dan penumpukan bersih emas, yang menjadi eksponensial ketika dolar AS digunakan sebagai senjata melawan Rusia,” kata Piepenburg.
Baca Juga
Piepenburg menegaskan akumulasi emas tersebut bukan langkah menjauh dari dolar, melainkan persiapan terhadap kemungkinan penyesuaian harga mata uang tersebut. Ia juga melihat potensi peningkatan penggunaan emas sebagai aset penyelesaian bersih dalam sistem keuangan global.
Sementara Garofalo menilai rasio utang terhadap produk domestik bruto (PDB) AS meningkat tajam selama 50 tahun terakhir menjadi sekitar 350% dari sebelumnya 100% pada 1970-an. Kondisi ini menempatkan Federal Reserve AS (The Fed), bank sentral Amerika Serikat, dalam posisi sulit karena kenaikan suku bunga berisiko memicu gejolak nilai tukar. Utang AS yang melampaui US$ 34 triliun ditambah defisit tahunan bernilai triliunan dolar dinilai menggerus kepercayaan bank sentral global terhadap obligasi Pemerintah AS.
Garofalo menegaskan emas tidak semata komoditas yang ditentukan oleh mekanisme penawaran dan permintaan. “Ini adalah instrumen moneter, dan instrumen moneter tetap relatif satu sama lain berdasarkan suku bunga relatif. Jadi, kurangnya kepercayaan itulah yang benar-benar mendorong modal keluar dari utang negara ke bank sentral melalui Tether, oleh individu, dan ke emas sebagai instrumen moneter,” katanya.
Stablecoin dan arus baru ke emas
Para panelis juga menyoroti meningkatnya ketertarikan penerbit stablecoin terhadap emas. Stablecoin merupakan aset kripto yang nilainya dipatok terhadap mata uang atau aset tertentu, umumnya dolar AS.
Tether, salah satu penerbit stablecoin terbesar, tercatat memiliki cadangan emas sekitar 16 ton metrik dengan nilai lebih dari US$ 2,5 miliar. Menurut Piepenburg, model bisnis stablecoin menciptakan aliran dana ke obligasi Pemerintah AS sekaligus membuka peluang keuntungan dari selisih imbal hasil.
Baca Juga
“Penerbit stablecoin ini memberikan dolar elektronik kepada warga, kemudian penerbit menggunakan dolar tersebut untuk membeli obligasi Pemerintah AS — menguntungkan pemerintah AS — lalu mereka melakukan arbitrase atas imbal hasil obligasi pemerintah tersebut untuk diri mereka sendiri dan mengambil keuntungan. Hal terpenting yang perlu diperhatikan pada Circle Internet Group, Tether, atau JPMorgan Chase adalah mereka mengambil keuntungan dari stablecoin dan membeli emas. Itulah ironi yang besar,” kata Piepenburg.
Ia menjelaskan stablecoin awalnya dirancang untuk memperkuat dominasi dolar, tetapi kini berkembang dengan produk berbasis emas yang dinilai lebih stabil dibandingkan mata uang fiat. Piepenburg dan Garofalo menilai masuknya pemain kripto ke pasar emas menjadi sinyal positif karena memperluas basis investor dan mendorong konsolidasi industri.
Mata uang fiat adalah uang yang nilainya tidak didukung oleh komoditas fisik (seperti emas atau perak), melainkan ditetapkan dan dijamin oleh pemerintah serta kepercayaan masyarakat.
Prospek jangka panjang tetap kuat
Kenaikan harga emas yang tajam memunculkan kekhawatiran sebagian investor bahwa peluang sudah terlewat dan harga terlalu mahal. Namun, panel menilai investor perlu melihat emas sebagai penyimpan nilai jangka panjang di tengah erosi mata uang fiat.
“Setiap mata uang fiat yang pernah diciptakan pada akhirnya gagal, dan dolar AS juga akan demikian. Ini seperti pepatah tentang kebangkrutan, terjadi secara bertahap dan kemudian tiba-tiba,” kata Garofalo.
Para panelis sepakat pasar bullish emas pada akhirnya akan reda, tetapi belum dalam waktu dekat. Faktor struktural, seperti perubahan aliansi perdagangan, meningkatnya peran negara-negara BRICS (Brasil, Rusia, India, China, Afrika Selatan), dan krisis utang di negara besar dinilai masih akan menopang harga.
Proyeksi harga emas 2026
Dengan berbagai pilihan investasi yang tersedia, diskusi panel beralih ke proyeksi harga emas. Garofalo menyebut potensi harga mencapai US$ 7.000 per ons, sementara Piepenburg melihat ruang kenaikan lebih luas dalam siklus jangka menengah.
“Saya rasa kita baru setengah jalan dari siklus 8 tahun untuk emas, jadi Anda bisa melihat US$ 7.000, US$ 8.000, tetapi itu belum termasuk kejadian tak terduga seperti peristiwa legislatif atau kejadian langka lainnya,” katanya.
"Berdasarkan fundamentalnya, arah pergerakan emas secara jangka panjang adalah ke atas," katanya.

