'Debottlenecking' Purbaya Kembali Bergerak, Pertamina Bakal Dimudahkan Produksi Pertamax Green
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menggelar sidang terbuka debottlenecking bersama PT Pertamina (Persero). Sebagai Wakil Ketua Satuan Tugas Percepatan Program Strategis Pemerintah (Satgas P2SP), Purbaya akan memangkas dua peraturan yang menghambat pengembangan etanol sebagai campuran produk Pertamax Green.
“Keputusan rapat hari ini kita akan sesuaikan peraturan hasil diskusi. Ada penyesuaian NSPK [Norma, Standar, Prosedur, dan Kriteria], perubahan PMK 82/2024 dan perubahan Perdirjen Bea Cukai 13/2024,” kata Purbaya, di kantornya, Jakarta, Jumat (6/2/2026).
Purbaya mengatakan perubahan tersebut akan selesai paling lama sepekan dari putusan dihasilkan.
Dalam sidang tersebut Wakil Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Oki Muraza mengeluhkan izin dan beban cukai untuk ekspansi Pertamax Green, bensin dengan campuran bioetanol 5% atau E5.
Oki mengatakan, pembebasan cukai etanol baru berhasil didapatkan Pertamina untuk Integrated Terminal Surabaya. Proses mendapatkan izin tersebut terbilang memakan waktu. Total, dengan mengurus amdal, Pertamina membutuhkan waktu 2-3 tahun. Sementara Pertamina juga harus bergerak untuk ekspansi ke 120 terminal BBM.
Baca Juga
Selain persoalan itu, Oki juga mengeluhkan beban keuangan yang harus ditanggung karena membayar cukai etanol.
“Dengan cukai Rp 20.000 per liter keekonomiannya menjadi sangat berat,” kata Oki.
Oki menyebut bahwa relaksasi ini diperlukan, mengingat Pertamax Green baru tersedia di 177 SPBU di Pulau Jawa. Dengan berlakunya program E5 berjalan secara nasional, Indonesia dapat mensubsitusi impor bensin hingga 5% dari total impor sebesar 20 juta kiloliter.
“Kalau MOPS (Mean of Platts Singapore) sekarang US$ 80 per barel kalau 20 juta kiloliter berarti (sekitar) US$ 1,6 miliar (setara Rp 26,8 triliun dengan kurs Rp16.800 per dolar AS, red),” kata dia.
Saat ini produksi bioetanol di Indonesia mencapai 400.000 kiloliter per tahun. Rencananya, Pertamina bakal menyerap 50% dari total produksi tersebut. Saat ini produk etanol dikembangkan melalui pemurnian tebu. Tapi, ke depan juga akan dikembangkan etanol yang berasal dari aren dan sorgum.
“Harapan kami dengan program ini, kita akan mendapatkan multiplier effect untuk ekonomi, di mana kita akan memperkuat energi kita, mengurangi ketergantungan terhadap impor bensin, dan memperkuat neraca perdagangan, dan dari segi lingkungan mengurangi emisi,” jelas dia.

