Kadin Dorong Ekonomi Syariah Jadi Mesin Pertumbuhan Berkelanjutan Nasional
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Ekonomi syariah dipandang sebagai instrumen strategis untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan. Untuk mewujudkan hal tersebut, dibutuhkan sinergi lintas sektor agar Indonesia mampu menjadi pusat ekonomi syariah sekaligus pemain utama industri halal dunia. Hal ini disampaikan Kepala Badan Pengembangan Ekonomi dan Keuangan Syariah (BPEKS) Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Titi Khoiriah, dalam ajang Kadin Sharia Economic Outlook 2026 yang digelar di Menara Kadin Indonesia, Jakarta, Rabu (28/1/2026).
Dalam diskusi yang mengusung tema “Driving Indonesia’s Halal Industry Competitiveness and Global Export Readiness”, Titi menegaskan komitmen Kadin Indonesia untuk menjadi akselerator utama dalam pengembangan ekonomi syariah dan industri halal nasional. Menurutnya, forum ini menjadi momentum penting untuk membahas arah dan prospek ekonomi syariah ke depan, sekaligus memperkuat peran Kadin sebagai mitra strategis pemerintah dan dunia usaha.
“Pada hari ini kita membahas bagaimana outlook ekonomi syariah ke depannya dan bagaimana Kadin berusaha menjadi akselerator pengembangan ekonomi syariah dan industri halal di Indonesia,” ujar Titi. Ia menjelaskan bahwa rangkaian acara dikemas melalui beberapa sesi paralel yang menghadirkan perspektif lintas sektor, termasuk dari pemerintah.
Kehadiran Wakil Menteri Pariwisata, kata Titi, menjadi sangat relevan dalam membahas posisi Muslim Friendly Tourism sebagai bagian dari ekosistem ekonomi syariah nasional. Indonesia menargetkan diri sebagai pusat ekonomi syariah dan industri halal dunia, sehingga penguatan sektor pariwisata ramah Muslim menjadi elemen penting dalam strategi tersebut. KADIN Indonesia pun hadir untuk mendorong upaya bersama agar potensi ini dapat dikembangkan secara optimal.
Meski demikian, Titi mengakui masih terdapat berbagai pekerjaan rumah yang harus diselesaikan secara kolektif. Sinergi antara pelaku usaha, asosiasi industri, dan UMKM menjadi kunci agar pengembangan ekonomi syariah dapat berjalan efektif. Antusiasme peserta yang tinggi dalam acara ini, menurutnya, menunjukkan besarnya minat dan kesiapan ekosistem usaha untuk terlibat aktif.
Baca Juga
CEO Investortrust Ungkap Penyebab Sektor Keuangan Syariah Indonesia Tertinggal
Lebih lanjut, Titi menekankan bahwa penguatan ekonomi syariah harus diarahkan agar Indonesia tidak hanya mampu menguasai pasar domestik, tetapi juga menjadi pemain utama dengan daya saing global. Melalui berbagai proyek dan inisiatif ekonomi syariah, KADIN berupaya mengkaji dan merumuskan arah kebijakan yang mampu mendorong transformasi tersebut.
Ia juga menyoroti kuatnya ekosistem Kadin Indonesia yang memiliki lebih dari 12.000 anggota, dengan sekitar 3.000 anggota ada di tingkat pusat serta jaringan di 38 provinsi dan sejumlah kabupaten. Struktur ini dinilai cukup untuk menopang pengembangan ekonomi syariah secara nasional. Dengan dukungan populasi Muslim terbesar di dunia yang mencapai lebih dari 230 juta jiwa, kekayaan sumber daya alam, serta potensi UMKM dan industri, Indonesia dinilai memiliki fondasi yang sangat kuat.
Tak hanya itu, kehadiran berbagai asosiasi dan UMKM halal dalam forum ini menunjukkan kontribusi nyata sektor usaha dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Sejumlah panelis dan CEO yang telah sukses menembus pasar ekspor turut berbagi pengalaman, memperkuat target agar Indonesia mampu menjadi produsen dan eksportir produk halal, bukan sekadar target pasar.
Titi juga menyinggung keterlibatan Kadin Indonesia dalam berbagai forum internasional. Partisipasi dalam World Economic Forum di Davos, serta agenda global seperti halal forum internasional, ABAC Meeting, B20, dan kerja sama The 8 Countries, menjadi bagian dari strategi memperluas peran Indonesia di panggung ekonomi syariah global. Indonesia bahkan didorong untuk menjadi tuan rumah sekaligus ketua dalam kerja sama The 8 Countries.
“Langkah-langkah ini menunjukkan bagaimana ekonomi syariah mampu melihat dan mengoptimalkan potensi Indonesia, sehingga kita bisa menjadi eksportir dan produsen utama, bukan hanya target market di industri halal,” ujarnya.

