Pilih Inggris, BMW Investasi Rp11,5 Triliun Bangun Pabrik MINI Listrik
JAKARTA, Investortrust.id – Terungkap sudah berapa investasi yang dikucurkan manufaktur otomotif asal Jerman, yang akan membangun pabrik mobil listrik untuk varian MINI di Oxford dan Swindon, Inggris. BMW Group disebutkan akan merogoh kocek £600 juta atau setara dengan Rp11,5 triliun untuk membangun pabrik mobil listrik tersebut.
Pabrik Oxford bersiap untuk memproduksi dua model MINI listrik secara penuh mulai tahun 2026, yaitu untuk varian MINI Cooper 3 pintu dan varian kompak MINI Aceman. Pada tahun 2030, produksi secara eksklusif untuk kendaraan listrik, dan BMW Group akan menghabiskan lebih dari £3 miliar di pabrik-pabriknya di Swindon, Hams Hall, dan Oxford sejak tahun 2000.
Pengembangan ini mendapat dukungan dari Pemerintah Inggris dan akan membantu menjaga lapangan kerja di pabrik manufaktur Oxford, dan fasilitas pembentukan bodi mobil di Swindon.
Baca Juga
Gak Jadi ke China, BMW Bangun Pabrik MINI Listrik di Inggris
"Investasi BMW Group adalah contoh lain yang gemilang bagaimana Inggris adalah tempat terbaik untuk memproduksi mobil masa depan. Dengan mendukung industri manufaktur mobil kami, kami menjaga ribuan lapangan kerja dan mengembangkan ekonomi kami di seluruh negeri," kata Perdana Menteri Inggris Rishi Sunak dilansir Bloomberg yang dikutip Motortrader, Selasa (12/9/2023).
Menteri Bisnis dan Perdagangan Kemi Badenoch mengatakan, keputusan BMW adalah bentuk dukungan besar terhadap ekonomi Inggris dan upaya Pemerintah ini untuk memastikan kekuatan terus-menerus dalam sektor otomotif terkemuka dunia.
“Kami bangga bisa mendukung investasi BMW Group, yang akan menjaga lapangan kerja berkualitas tinggi, memperkuat rantai pasokan kami, dan mendukung pertumbuhan ekonomi Britania Raya," tutur Badenoch.
Baca Juga
Ratusan Mobil Listrik Bakal Hilir-Mudik di KTT ASEAN, Ada BMW, Hyundai, TAM hingga Wuling
Pabrik Oxford merayakan ulang tahun ke-110 tahun ini, dan telah berhasil memproduksi MINI Electric sejak tahun 2019. Dengan demikian pabrik di Oxford sepenuhnya terintegrasi ke dalam jalur produksi dengan model konvensional bermesin bensin.

