Harga Emas Cetak Rekor Baru di Tengah Harapan Penurunan Suku Bunga Fed
Poin Penting
|
NEW YORK, Investortrust.id - Harga emas mencapai rekor tertinggi pada Selasa (13/1/2026) seiring data inflasi Amerika Serikat (AS) memperkuat spekulasi pemangkasan suku bunga Federal Reserve (The Fed) tahun ini. Sementara ketidakpastian geopolitik dan ekonomi global terus mendorong permintaan aset safe haven.
Harga emas spot stabil di US$ 4.591,49 per ons setelah sempat menyentuh rekor tertinggi US$ 4.634,33 pada awal sesi perdagangan. Kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Februari ditutup melemah 0,3% di level US$ 4.599,10 per ons.
Pergerakan harga emas tersebut terjadi di tengah rilis data Indeks Harga Konsumen (CPI) AS yang lebih rendah dari ekspektasi pasar, sehingga memicu kembali spekulasi bahwa The Fed akan memangkas suku bunga dalam waktu dekat. Kondisi ini memperkuat daya tarik emas sebagai aset lindung nilai di tengah ketidakpastian arah kebijakan moneter.
Direktur Perdagangan Logam High Ridge Futures David Meger mengatakan sentimen pasar cenderung positif setelah rilis data inflasi tersebut. “Alasan di balik sentimen yang sedikit positif secara keseluruhan di pasar adalah data CPI yang menggembirakan (yang) mengindikasikan kemungkinan lebih tinggi untuk penurunan suku bunga Fed di masa mendatang,” kata Meger dilansir CNBC.
Baca Juga
Harga Emas Antam (ANTM) Cetak Rekor Baru Rp 2,631 Juta per Gram
Data menunjukkan CPI inti AS naik 0,2% secara bulanan dan 2,6% secara tahunan pada Desember, lebih rendah dibandingkan ekspektasi analis masing-masing sebesar 0,3% dan 2,7%. Angka ini memperkuat keyakinan bahwa tekanan inflasi mulai mereda, membuka ruang bagi pelonggaran kebijakan moneter.
Presiden AS Donald Trump kembali menegaskan dorongannya agar suku bunga dipangkas secara signifikan setelah data inflasi dirilis. Pernyataan tersebut menambah tekanan politik terhadap Fed yang saat ini berada dalam sorotan publik.
Pasar memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan 27-28 Januari 2026. Namun, investor saat ini mengantisipasi dua kali penurunan suku bunga sepanjang tahun ini. Suku bunga yang lebih rendah cenderung menguntungkan emas batangan karena logam mulia tersebut tidak memberikan imbal hasil.
Meger menambahkan faktor fundamental lain, seperti ketegangan geopolitik dan isu independensi The Fed juga terus menopang permintaan emas sebagai aset safe haven. Kekhawatiran atas independensi The Fed meningkat setelah pemerintahan Trump membuka penyelidikan kriminal terhadap Ketua The Fed Jerome Powell, langkah yang menuai kritik dari mantan kepala Fed dan sejumlah bankir sentral global.
Di sisi geopolitik, Trump juga mengancam akan mengenakan tarif 25% terhadap negara-negara yang berdagang dengan Iran. Ancaman ini berisiko membuka kembali ketegangan dengan Beijing sebagai mitra utama Teheran. Pada saat yang sama, Rusia dilaporkan menyerang sejumlah kota di Ukraina dengan rudal dan drone, menambah tekanan pada stabilitas global.
Seiring meningkatnya ketidakpastian tersebut, Commerzbank menaikkan proyeksi harga emas akhir 2026 menjadi US$ 4.900 per ons. Langkah ini mencerminkan pandangan bank tersebut bahwa risiko geopolitik dan pelonggaran kebijakan moneter akan terus mendukung reli emas.
Di pasar derivatif, CME Group pada Senin (12/1/2026) menyatakan akan menyesuaikan penetapan margin untuk logam mulia guna mengantisipasi lonjakan volatilitas pasar. Kebijakan ini diambil untuk menjaga stabilitas perdagangan di tengah pergerakan harga yang ekstrem.
Baca Juga
Sementara itu, harga perak melonjak 2,1% menjadi US$ 86,74 per ons setelah sempat menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa di US$ 89,10 pada sesi sebelumnya.
Pedagang logam mulia InProved Hugo Pascal mengatakan meski indikator teknis menunjukkan potensi koreksi, sentimen pasar tetap condong ke arah penguatan. “Meskipun indikator teknis menunjukkan koreksi, para pedagang terus memilih opsi bullish (untuk perak). Investor harus bersiap menghadapi pergerakan balik yang tajam dalam lingkungan volatilitas tinggi ini, bahkan ketika bias bullish secara keseluruhan tetap utuh,” ujar Pascal.
Di sisi lain, harga platinum tidak berubah di level US$ 2.343,35 per ons, sementara paladium menguat 1,4% menjadi US$ 1.868,68 per ons. Pergerakan ini menunjukkan minat investor terhadap logam mulia masih solid di tengah dinamika global yang penuh ketidakpastian.

