Pakar ITB: Grafena Tak Gantikan Nikel sebagai Bahan Baku Baterai Kendaraan Listrik
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Pengamat otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu mengungkapkan, grafena (graphene) tak akan menggantikan nikel sebagai bahan baku utama baterai kendaraan listrik (electric vehicle/EV). Soalnya, grafena dan nikel bukanlah material yang saling menggantikan, melainkan memiliki fungsi berbeda dalam sistem baterai EV.
“Kurang tepat menyebut graphene lebih baik daripada nikel untuk baterai EV, karena keduanya bukan pesaing langsung,” kata Yannes Pasaribu kepada investortrust.id, Senin (12/1/2026).
Nikel disebut-sebut bakal tak lagi menjadi pilihan utama sebagai bahan baku beterai kendaraan listrik. Posisi nikel digadang-gadang bakal digantikan grafena.
“Selama ini kita fokus pada nikel. Tapi apakah nikel ke depan masih diperlukan industri otomotif untuk pembuatan baterai? Kami sudah lihat AI (artificial intelligence). Nah, ternyata ada graphene,” kata Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof Arif Satria dalam acara Temu Pemimpin Redaksi di Jakarta, Jumat (9/1/2025) malam.
Menurut Prof Arif, karena kelebihan-kelebihan yang dimilikinya, grafena ke depan kemungkinan lebih cocok sebagai material atau bahan baku baterai. Karena itu pula, BRIN sedang membuat riset tentang kebutuhan nikel bagi industri manufaktur masa depan.
Dengan demikian, kata Arif Satria, investasi yang sudah masuk ke pertambangan nikel di Tanah Air, terutama untuk hilirisasi, tetap layak (feasible) secara bisnis andai grafena kelak menggantikan nikel.
“Nikel tetap bermanfaat seandainya industri EV memilih graphene. Misalnya untuk keperluan alat berat. Jadi, nikel tetap penting, tetap bermanfaat. Kami siapkan riset untuk shifting-nya,” tegas dia.
Berdasaran riset investortrust.id, grafena adalah material dua dimensi yang tersusun dari satu lapisan atom karbon dalam pola heksagonal (seperti sarang lebah). Grafena sangat tipis, dengan ketebalan hanya satu atom. Material ini juga sangat kuat, sekitar 200 kali lebih kuat dari baja, tetapi 10 kali lebih ringan.
Grafena memiliki konduktivitas tinggi, menghantarkan listrik dan panas dengan sangat baik. Selain itu, grafena hampir tembus cahaya dan fleksibel, bisa ditekuk tanpa mudah rusak. Material ini pun dapat didaur ulang, sehingga ramah lingkungan.
Baca Juga
Nikel Bakal Digantikan Grafena sebagai Bahan Baku Baterai Kendaraan Listrik? Ini Kata Kepala BRIN
Grafena berhasil diisolasi pertama kali pada 2004 oleh Andre Geim dan Konstantin Novoselov (University of Manchester), yang kemudian memenangi Hadiah Nobel Fisika 2010. Contoh aplikasi grafena antara lain baterai dan superkapasitor (dengan pengisian lebih cepat), elektronik fleksibel dan layar sentuh, sensor medis dan kimia, material komposit yang sangat kuat dan ringan, serta transistor generasi baru.
Untuk Meningkatkan Konduktivitas
Yannes Pasaribu menjelaskan, nikel merupakan bahan aktif utama pada katoda baterai lithium-ion, seperti teknologi Nickel Manganese Cobalt (NMC) dan Nickel Cobalt Aluminum (NCA). Material ini berperan krusial dalam menentukan kapasitas energi dan jarak tempuh kendaraan listrik, khususnya untuk EV jarak jauh dan segmen premium.
Di sisi lain, menurut Yannes, grafena dalam aplikasi komersial saat ini lebih banyak digunakan sebagai aditif atau pelapis, baik di katoda maupun anoda baterai. Peran grafena lebih difokuskan pada peningkatan performa, bukan sebagai penyimpan energi utama.
“Graphene dipakai untuk meningkatkan konduktivitas, membantu pengisian lebih cepat, memperbaiki manajemen panas, dan memperkuat struktur elektroda agar lebih awet, sehingga umur sel baterai lebih panjang,” ujar dia.
Yannes menilai penggunaan grafena secara masif masih menghadapi tantangan besar. Biaya produksi yang tinggi serta kompleksitas manufaktur skala industri membuat baterai berbasis grafena sepenuhnya (full graphene) masih sulit diwujudkan dalam praktik.
“Secara teori memang memungkinkan, tetapi dalam praktik industri saat ini sangat sulit karena harganya mahal dan kepadatan energinya masih lebih rendah dibandingkan lithium-ion kaya nikel,” tutur dia.
Baca Juga
Garap Pengolahan Mineral Nikel, United Tractors (UNTR) Dirikan Anak Usaha Ini
Itu sebabnya, Yannes memprediksi industri otomotif global tidak akan beralih total dari nikel ke grafena. Pendekatan yang paling realistis dalam waktu dekat adalah pengembangan baterai graphene-enhanced, yakni baterai berbasis nikel yang ditingkatkan performanya dengan penambahan grafena.
“Yang paling mungkin adalah graphene ditambahkan untuk memperbaiki konduktivitas, pengisian cepat, dan manajemen panas, bukan menggantikan seluruh material baterainya,” tegas dia.
Karena itu pula, kata Yannes Pasaribu, investasi besar pada baterai berbasis nikel di Indonesia masih memiliki prospek cerah. Nikel tetap menjadi komponen katoda yang belum tergantikan untuk menyimpan energi berkapasitas tinggi.
“Pabrikan EV memilih Indonesia karena keunggulan strategis cadangan nikel dunia. Jadi, kemunculan graphene justru menjadi peluang integrasi teknologi, bukan ancaman,” tandas dia.
Investasi Nikel Tetap Relevan
Menurut Yannes, industri otomotif tidak akan meninggalkan nikel secara mendadak, melainkan mengadopsi grafena sebagai aditif untuk meningkatkan daya saing produk. Dengan begitu, investasi pabrik baterai dan ekosistem nikel yang sudah dibangun di Indonesia tetap relevan dan kompetitif.
Dia menambahkan, selain grafena, industri baterai mulai mendiversifikasi teknologi ke arah sodium-ion yang berpotensi menjadi pengubah peta industri (game changer) segmen EV berbiaya rendah, serta solid-state battery (jenis baterai lithium-ion atau ion lain di mana elektrolit cair konvensional diganti elektrolit padat) sebagai solusi jangka panjang.
“Permintaan baterai lithium-ion berbasis nikel diproyeksikan tetap tinggi setidaknya hingga tahun 2030-an, terutama untuk EV premium. Sedangkan Lithium Iron Phosphat (LFP) untuk segmen menengah-bawah dan sodium-ion akan berkembang ketika teknologinya benar-benar matang secara komersial,” papar dia.
Yannes Pasaribu menambahkan, strategi utama industri baterai global saat ini adalah hibridisasi dan diversifikasi. Grafena tidak diposisikan sebagai pengganti nikel, melainkan sebagai aditif peningkat kinerja.
“Dengan mengintegrasikan graphene ke dalam infrastruktur nikel yang sudah mapan di Indonesia, industri bisa menggabungkan keunggulan sumber daya alam dengan inovasi material maju,” ujar Yannes.
Baca Juga
Bukan Hanya Batu Bara, Pemerintah Juga Akan Kurangi Produksi Nikel Tahun Depan
Yannes yakin industri yang sudah berinvestasi di Indonesia akan beradaptasi dengan melakukan diversifikasi teknologi sambil memanfaatkan infrastruktur dan ekosistem yang sudah dibangun.

