Penjualan Otomotif 2026 Diprediksi Lambat, Insentif dan EV Jadi Penopang?
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Industri otomotif nasional diproyeksikan menghadapi tekanan pada 2026 seiring perlambatan daya beli dan ketidakpastian ekonomi global. Namun, insentif pemerintah serta pertumbuhan kendaraan listrik (electrical vehicle/EV) menjadi penopang utama agar penjualan tidak jatuh terlalu dalam.
Pengamat otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Yannes Martinus menilai, pasar otomotif tahun ini masih memiliki peluang bertahan meski tidak ekspansif. Menurutnya, pola konsumsi masyarakat cenderung lebih selektif, terutama untuk kendaraan berbahan bakar konvensional.
Baca Juga
Dongkrak Industri Otomotif 2025, Enam Pameran Gaikindo Catat Penjualan 60.000 Mobil
“Kalau kita lihat tren 2026, pasar otomotif tidak sepenuhnya tumbuh agresif, tapi juga tidak kolaps. Insentif dan segmen EV menjadi bantalan penting,” ujar Yannes kepada investortrust.id, Sabtu (3/1/2026).
Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukkan penjualan mobil nasional sepanjang 2025 berada di bawah level pra-pandemi. Kondisi ini membuat pelaku industri berharap kebijakan fiskal dan stimulus berlanjut untuk menjaga permintaan domestik.
Yannes menilai, keberlanjutan insentif pajak, termasuk pajak pertambahan nilai ditanggung pemerintah (PPN DTP) untuk kendaraan ramah lingkungan, akan menentukan arah pasar. Tanpa dukungan kebijakan, konsumen berpotensi menunda pembelian di tengah tekanan biaya hidup.
Selain faktor domestik, fluktuasi nilai tukar dan suku bunga global juga memengaruhi harga kendaraan dan biaya impor komponen. Hal ini berpotensi menekan margin produsen sekaligus harga jual ke konsumen.
Baca Juga
Meski demikian, segmen EV diprediksi tetap tumbuh dua digit, didorong masuknya model baru dengan harga lebih kompetitif. “EV bukan lagi pasar masa depan, tapi sudah menjadi penyangga utama industri saat ini,” kata Yannes.

