Industri 'Smartphone' 2025 Naik Tipis, AI dan 5G Bakal Jadi Kuncian
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Industri smartphone global sepanjang 2025 mencatat pertumbuhan unit yang relatif terbatas, namun tetap menunjukkan ketahanan dari sisi nilai pasar. Laporan berbagai lembaga riset menyebutkan pengiriman smartphone dunia hanya tumbuh sekitar 1-1,5% dengan total sekitar 1,24-1,25 miliar unit, tetapi harga jual rata-rata (average selling price/ASP) justru meningkat. Faktor ini didorong permintaan terhadap perangkat dengan dukungan kecerdasan buatan (AI) dan konektivitas 5G.
Dikutip dari Counterpoint, Rabu (31/12/2025), segmen smartphone premium dengan harga di atas US$ 700 tumbuh sekitar 8% pada semester pertama 2025. Pertumbuhan ini terjadi di tengah tekanan ekonomi global dan menunjukkan bahwa konsumen semakin selektif, memilih ponsel dengan fitur kekinian seperti AI generatif dan jaringan 5G.
Di pasar global, Apple dan Samsung tetap menjadi pemain dominan. iPhone 16 tercatat sebagai smartphone terlaris dunia sepanjang 2025, mempertahankan posisi puncak selama beberapa kuartal berturut. Apple perkasa di segmen premium berkat integrasi AI di level perangkat dan ekosistem, sementara Samsung menjaga volume lewat lini Galaxy A yang menjangkau entry-level hingga menengah, dengan 5G semakin menjadi fitur standar.
Baca Juga
Di Indonesia, dinamika pasar smartphone bahkan lebih kompetitif. Counterpoint mencatat pasar smartphone nasional tumbuh sekitar 12% secara tahunan (YoY) pada kuartal III 2025, jauh di atas rata-rata global. Pertumbuhan ini didorong pemulihan daya beli, agresivitas promosi, serta meningkatnya minat terhadap ponsel 5G dan fitur AI di segmen menengah bawah.
Persaingan utama terjadi antara Xiaomi dan Samsung. Xiaomi memimpin pasar pada paruh pertama 2025 dengan pangsa hingga 21%, ditopang lini Redmi yang kuat di segmen harga terjangkau. Namun, Samsung kembali merebut posisi teratas pada kuartal III 2025 dengan pangsa sekitar 20% yang mengandalkan Galaxy A series dengan harga kisaran Rp 2 jutaan.
Menurut analis pasar smartphone sekaligus Senior Consultant di SEQARA Communications, Aryo Meidianto, menyebut model-model entry-level dan mid-range juga menjadi tulang punggung penjualan. Samsung Galaxy A07, Redmi A5, dan Redmi Note series mencerminkan strategi produsen yang menitikberatkan harga, ketersediaan luas, serta dukungan 5G dan fitur AI dasar sebagai nilai tambah.
"Segmen mid low menjadi kunci utama pertumbuhan industri karena jumlah penggunanya yang masif. Kalau segmen premium tetap lebih kecil secara volume, tetapi penjualannya cenderung stabil," ungkap Aryo kepada investortrust.id beberapa waktu lalu.
Di sisi lain, salah satu tren kunci penjuan adalah percepatan adopsi 5G. Counterpoint mencatat sekitar 35% smartphone yang dikirim ke Indonesia pada paruh kedua 2025 sudah mendukung 5G, meskipun infrastruktur jaringan belum merata. Secara global, 5G kini telah mencapai sekitar 68% dari total perangkat aktif, menandai fase adopsi massal.
Baca Juga
Counterpoint: Pasar Smartphone Global Diproyeksi Susut 2,1% pada 2026
Selain 5G, AI generatif menjadi faktor pembeda utama. IDC memperkirakan sekitar 30% smartphone yang dikirim pada 2025 sudah mendukung kemampuan GenAI, terutama di segmen menengah atas dan premium. Fitur seperti AI kamera, terjemahan real-time, pengolahan foto dan video berbasis AI, hingga optimasi baterai menjadi alasan utama konsumen melakukan upgrade.
Di sisi lain, siklus penggantian perangkat cenderung memanjang. Rata-rata siklus penggantian smartphone global kini berada di kisaran 2,4 tahun, dipengaruhi peningkatan kualitas perangkat, dukungan pembaruan perangkat lunak yang lebih panjang, serta kehati-hatian konsumen. Namun, kombinasi AI dan 5G dinilai berpotensi menahan perlambatan tersebut.
Ke depan, sejumlah analis memproyeksikan industri smartphone akan memasuki fase pertumbuhan nilai yang lebih kuat pada 2026, seiring kematangan teknologi AI, perluasan jaringan 5G. Tahun 2025 pun dipandang sebagai titik penting transformasi industri, ketika AI dan 5G beralih dari fitur tambahan menjadi pertimbangan utama konsumen.

