Industri Smartphone Mulai Bangkit, Stabilitas Ekonomi Jadi Kunci Utama
JAKARTA, investortrust.id - Industri smartphone dan perangkat elektronik mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan menjelang 2026. Salah satu hal yang menjadi penentu adalah stabilitas ekonomi untuk mendongkrak daya beli.
Menurut laporan NielsenIQ Indonesia, dua tahun terakhir industri smartphone harus melewati tahun yang penuh tekanan akibat turunnya daya beli dan ketidakpastian ekonomi global. Sepanjang 2024, penjualan smartphone diperkirakan terkontraksi 2-3%, terutama karena konsumen menahan pembelian barang-barang bernilai tinggi di tengah pelemahan pendapatan riil.
"Sejauh ini segmen ponsel premium dan perangkat pendukung produktivitas mengalami rebound," kata Indonesia Tech and Durable Commercial Leader, Bramantiyoko Sasmito dalam acara Digital Economy and Telco Outlook 2026 yang diselenggarakan Selular Media Network di Jakarta, Rabu (26/11/2025).
Baca Juga
Bram menyebut dinamika geopolitik antara Amerika Serikat dan China juga akan turut memengaruhi strategi penetapan harga dan target penjualan di tahun depan. Persaingan tarif membuat produsen mulai melakukan diversifikasi harga dan penyesuaian portofolio produk untuk meminimalkan risiko supply chain.
Hal senada juga dibenarkan oleh CEO dan Founder Toco Arnold Sebastian Egg. Menurutnya, kontribusi perangkat elektronik terhadap total transaksi e-commerce mencapai 8-9% dan terus meningkat.
Arnold menilai, struktur potongan biaya yang lebih ringan terbukti membuat penjualan perangkat elektronik premium juga meningkat lebih cepat dibanding tahun sebelumnya.
“Market size (perangkat elektronik) malah tinggi banget. Konsumen justru memindahkan transaksi dengan jumlah besar ke platform kami,” jelasnya.
Tantangan infrastruktur dan stabilitas ekonomi domestik
Di sisi lain, pertumbuhan smartphone juga terdorong oleh ketersedian jaringan 5G, AI, dan fitur-fitur yang lebih relevan dengan kebutuhan pengguna modern. Bahkan, hampir setiap segmen smartphone memiliki teknologi tersebut.
Sementara itu, pengamat ekonomi LPEM UI Teuku Riefky menilai, kunci pemulihan industri smartphone tetap terletak pada stabilitas ekonomi domestik.
“Kalau lapangan kerja diciptakan, daya beli masyarakat pasti pelan-pelan meningkat. Dan lapangan kerja hanya bisa tumbuh kalau ada investasi,” tegasnya.
Baca Juga
Blibli XPO 2025 Hadirkan Tren 'Smartphone' dan Teknologi AI Terbaru
Menurutnya, Indonesia perlu memperbaiki kepastian hukum dan menyederhanakan regulasi agar investor kembali melirik pasar elektronik dan teknologi. Menurutnya, dua hal itu yang akan mampu mendongkrak daya beli masyarakat.
Dengan kombinasi peningkatan minat konsumen pada kategori premium, ekspansi 5G bertahap, serta potensi pulihnya daya beli, industri smartphone diprediksi akan tetap tumbuh di tahun depan. Namun, para pelaku menegaskan pemulihan hanya akan berkelanjutan jika stabilitas ekonomi dan iklim usaha Indonesia membaik secara nyata.

