Penjualan Mobil LCGC Merosot hingga 30% di 2025, Tergerus EV
JAKARTA, investortrust.id - Penjualan mobil ramah lingkungan dengan harga terjangkau atau low-cost green car (LCGC) merosot tajam hingga menyentuh 30% pada 2025.
Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), pada November 2025 hanyak sebanyak 8.879 unit mobil LCGC yang terjual. Angka itu merosot 30% dibandingkan pada November 2024 yang menyentuh angka 12.737 unit. Penjualan LCGC pada November 2025 ini juga menurun 1% dibanding Oktober 2025 yang mencatat angka 8.945 unit.
Baca Juga
Market Share Naik, Astra (ASII) Kuasai 56% Pasar Mobil Semua Segmen dan 75% Mobil LCGC
Secara total, terdapat 112.151 unit mobil LCGC yang terjual pada periode Januari-November 2025 atau turun sekitar 30,9% dibanding periode yang sama pada 2024 sebanyak 162.320 unit.
Pengamat otomotif, Yannes Martinus Pasaribu mengungkapkan, merosotnya penjualan mobil LCGC lantaran sebagian konsumen beralih ke mobil listrik atau electric vehicle (EV). Hal itu yang membuat pertumbuhan penjualan mobil listrik melesat pada 2025.
"LCGC turun penjualan. Memang dengan dia turun, Apakah berarti yang turun ini seluruh mobil? Enggak. Ada yang pindah ke mobil listrik," kata Yannes kepada investortrust.id di Badung, Bali, beberapa waktu lalu.
Data Gaikindo mencatat pada periode Januari–November 2025 distribusi mobil listrik dari pabrik ke dealer mencapai 82.525 unit dari total penjualan kendaraan nasional yang mencapai 710.084 unit. Dengan capaian tersebut, pangsa pasar mobil listrik berada di level 11,62%. Padahal, pada 2024, kontribusi EV hanya sekitar 4,9% dari penjualan mobil nasional.
Berdasarkan data dari DataTrust, penjualan mobil EV mencapai angka 143.505 unit hingga November 2025. Angka itu melampaui penjualan LCGC yang berada pada kisaran 130.643 unit.
Mayoritas konsumen LCGC merupakan generasi milenial yang melek teknologi dan kritis terhadap produk yang akan dibeli. Mereka memilih beralih ke mobil listrik karena lebih irit untuk pemakaian sehari-hari. Selain itu, mobil listrik juga menawarkan pengalaman baru dalam berkendara, terutama dari sisi kenyamanan, teknologi, dan gaya hidup.
"Dengan pembelian tadi dia dapat experience yang luar biasa. Kenyamanannya, teknologinya, konektivitasnya, lifestyle-nya dapat, gayanya dapat," katanya.
Meski demikian, Yannes mengingat industri EV nasional tak lantas berpuas diri. Masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan produsen mobil listrik untuk menjaga kepuasan konsumen.
Salah satunya, tanggung jawab moral dalam menyediakan stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU). Dikatakan, pertumbuhan penjualan mobil listrik dalam beberapa tahun terakhir tidak diiringi kesiapan infrastruktur pengisian daya. Akibatnya, pengguna mobil listrik harus mengantre berjam-jam untuk mengisi daya.
"Itu enggak dipikirkan. Rasio pertumbuhan ini harus disiapkan. Yang jualan mobil juga punya tanggung jawab," katanya.
Baca Juga
Menurutnya, industri harus menyediakan SPKLU untuk menjaga kepuasan konsumen. Jangan sampai konsumen merasa jengah dengan antrean di SPKLU dan beralih ke mobil hybrid yang lebih fleksibel.
"Mengantre tujuh mobil di charger kayak fast charging begitu, akhirnya dia (konsumen) nyari yang rasional aja deh. Sudah beli hybrid," katanya.
Selain itu, industri EV juga mengalami tekanan berat akibat berakhirnya masa insentif pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM), PPN 10%, dan bea masuk 0% pada 31 Desember 2025. perubahan regulasi itu dikhawatirkan akan memaksa produsen menaikkan harga mobil listrik yang selama ini menjadi daya tarik bagi konsumen. Akibatnya, Yannes memprediksi penjualan mobil listrik pada 2026 tidak semoncer 2025.
"(Penjualan diprediksi) Agak turun karena aturan pemerintahnya kan. Ya, artinya mereka malah harus reinvestasi kan sekarang," katanya.

