Saat Listrik Padam, Rig Pertamina Jadi Harapan Warga Aceh Tamiang
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - PT Pertamina Drilling Service Indonesia (PDSI), perusahaan jasa pengeboran migas, menghadirkan akses listrik darurat bagi warga enam desa di Kecamatan Rantau, Kabupaten Aceh Tamiang, sejak akhir November 2025 setelah bencana banjir bandang memutus aliran listrik dan jaringan komunikasi.
Inisiatif yang dilakukan di sekitar Rig PDSI#19.1 itu menjadi penopang penting bagi warga untuk kembali terhubung dengan keluarga, mengurangi rasa terisolasi, serta menjaga rasa aman pada malam hari di tengah krisis kemanusiaan.
Malam hari di Kecamatan Rantau terasa lebih panjang sejak banjir bandang melanda wilayah tersebut. Tanpa listrik dan tanpa sinyal, gelap datang lebih cepat dan menyisakan kecemasan di rumah-rumah warga. Di tengah kondisi itu, cahaya tetap menyala di luar area Rig PDSI#19.1 milik PT Pertamina Drilling Services Indonesia, menjadi penanda bahwa bantuan masih hadir di sekitar mereka.
Setiap malam, warga dari enam desa mendatangi area aman di sekitar rig untuk mengisi daya ponsel, powerbank, senter, dan lampu darurat. Mereka mengantre dengan tertib, menunggu giliran mendapatkan listrik. Bagi warga, baterai penuh bukan sekadar kebutuhan teknologi, melainkan sarana untuk menghubungi keluarga, memastikan kabar keselamatan, serta mengurangi rasa terisolasi akibat terputusnya komunikasi.
“HP (hand phone) saya sudah mati dua hari. Kami tidak bisa hubungi saudara sama sekali. Begitu dengar bisa ngecas di sini, rasanya seperti dapat kabar baik,” kata Siti, warga Desa Alur Cucur dikutip Senin (22/12/2025).
Baca Juga
Pertamina Pastikan Pasokan BBM dan LPG di Aceh Berangsur Normal
Sejak bencana terjadi, aliran listrik dan jaringan komunikasi di wilayah sekitar rig terputus total. Kondisi tersebut membuat warga kesulitan berkomunikasi, terutama pada malam hari ketika penerangan menjadi kebutuhan mendasar bagi aktivitas dan rasa aman keluarga.
Rig Superintendent Pertamina Drilling Surya Budiman mengatakan inisiatif membuka akses pengisian daya lahir dari kebutuhan mendesak masyarakat sekitar. “Sejak awal bencana, listrik dan sinyal mati. Padahal warga sangat membutuhkan ponsel untuk mengabarkan kondisi mereka kepada keluarga. Kami hanya berusaha membantu sebisanya,” ujar Surya.
Rig PDSI#19.1 berada dalam kondisi penghentian sementara operasi sejak banjir bandang melanda Aceh Tamiang pada Selasa (26/11/2025) dan kembali beroperasi pada Selasa (16/12/2025). Meski demikian, Pertamina Drilling tetap membuka akses pengisian daya dengan memperhatikan aspek keselamatan operasional. “Pengisian kami lakukan di area aman, di luar kawasan kerja rig. Hampir setiap malam ada lebih dari 100 orang yang datang,” katanya.
Warga yang memanfaatkan fasilitas tersebut berasal dari Desa Alur Batu, Alur Cucur, Alur Manis, Landu, Tempel, dan Lumpuran. Sebagian warga datang berjalan kaki, sementara lainnya berboncengan sepeda motor. Tidak sedikit yang membawa anak-anak dan menunggu sambil duduk di tepi area, ditemani cahaya lampu darurat yang perlahan kembali menyala.
“Kalau malam gelap sekali. Anak-anak takut. Lampu emergency ini sangat membantu,” ujar Rahmad, warga Desa Alur Manis, sambil menunjukkan lampu darurat yang telah terisi penuh.
Baca Juga
Kilang Pertamina Internasional Peroleh Pembiayaan Global Rp 1,6 Triliun
Selain menyediakan akses listrik, Pertamina Drilling juga menyalurkan bantuan kemanusiaan berupa makanan siap santap dua kali sehari, sembako, air bersih, serta air minum dalam kemasan bagi warga terdampak di sekitar wilayah operasi. Bantuan tersebut menjadi penopang penting di tengah keterbatasan akses logistik pascabanjir. “Dalam kondisi seperti ini, bantuan makanan dan air sangat berarti. Setidaknya kami tidak merasa sendirian,” tutur Yuliana, warga Desa Landu.
Di tengah gelap dan keterbatasan pascabencana, Rig PDSI#19.1 menjelma lebih dari sekadar fasilitas industri. Lokasi tersebut menjadi ruang singgah sementara bagi warga untuk mengisi daya, berbagi cerita, dan saling menguatkan. Cahaya yang menyala setiap malam tidak hanya menerangi ponsel dan senter, tetapi juga menghadirkan rasa aman dan harapan di tengah bencana yang belum sepenuhnya usai.

