ESDM Sebut Indonesia Masuki Fase Baru Industri Pengolahan SDA
Poin Penting
| ● | Indonesia memasuki fase baru hilirisasi untuk meningkatkan nilai tambah SDA. |
| ● | Total nilai investasi 18 proyek mencapai Rp 618 triliun. |
| ● | Proyek minerba, ketahanan energi, dan transisi energi menyerap lebih dari 185.000 tenaga kerja. |
JAKARTA, investortrust.id - Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Kementerian ESDM Laode Sulaeman mengungkapkan bahwa Indonesia kini memasuki fase baru industri pengolahan sumber daya alam (SDA) atau hilirisasi, setelah sebelumnya selama puluhan tahun hanya mengekspor bahan mentah.
Laode mengungkapkan, pada 20–25 tahun lalu hampir seluruh komoditas tambang diekspor dalam bentuk mentah. “Bahan mentah ini diambil oleh negara lain, diolah menjadi produk bernilai, lalu kita membeli kembali barang tersebut,” ujar Laode dalam acara "Refleksi Tata Kelola Hilirisasi" di Jakarta, Rabu (10/12/2025).
Kendati demikian, Laode menegaskan bahwa kini pemerintah sudah mengambil langkah nyata untuk meningkatkan nilai tambah dari bahan-bahan mentah tersebut melalui program hilirisasi. Pemerintah juga telah melarang ekspor dalam bentuk mentah.
Baca Juga
Smelter Freeport Beroperasi Lebih Cepat, CEO Freeport-McMoRan Pastikan Langsung ke Gresik
Dia mencontohkan industri semikonduktor dan elektronik yang sebagian besar berasal dari bahan tambang Indonesia. “Alhamdulillah saat ini, smelter sudah banyak tumbuh di mana-mana. Bahan mentah kita langsung diproduksikan di dalam negeri, menghasilkan barang dengan nilai berkali-kali lipat,” katanya.
Laode menyampaikan bahwa Ketua Tim Satuan Tugas (Sagas) Hilirisasi Bahlil Lahadalia telah menyerahkan 18 dokumen pra-feasibility study (pra-FS) kepada Kepala Danantara Rosan Roeslani, dengan total nilai investasi mencapai US$ 38,63 miliar atau sekitar Rp 618,13 triliun.
“Pasca-penyerahan studi kelayakan ini akan dilakukan koordinasi lebih lanjut oleh Danantara untuk menentukan proyek mana yang diprioritaskan untuk segera diimplementasikan,” sebut Laode.
Diketahui, dari 18 proyek tersebut, sebanyak delapan di antaranya merupakan proyek sektor mineral dan batu bara (minerba) dengan nilai investasi Rp 322,44 triliun dan kebutuhan tenaga kerja 104.974 orang.
Kedelapan proyek sektor minerba ini, meliputi Industri smelter aluminium, industri methanol & ethylene (batu bara), industri aspal, industri mangan sulfat, industri stainless steel slab, industri copper rod, wire & tube, industri besi baja (pasir besi), dan industri chemical grade alumina.
Baca Juga
Saksikan Penyerahan 6 Smelter Ilegal, Prabowo Tingkatkan Kepercayaan Investor
Kemudian ada juga dua proyek ketahanan energi. Fokus proyek adalah pembangunan oil refinery dan oil storage tank di 18 lokasi, yaitu Lhokseumawe, Sibolga, Natuna, Cilegon, Sukabumi, Semarang, Surabaya, Sampang, Pontianak, Badung (Bali), Bima, Ende, Makassar, Dongala, Bitung, Ambon, Halmahera Utara, dan Fakfak. Nilai investasi proyek ini mencapai Rp 232 triliun dan membutuhkan 50.960 tenaga kerja.
Selanjutnya ada juga dua proyek transisi energi, yaitu industri modul surya terintegrasi (berbasis bauksit dan silika) dan industri bioavtur dari used cooking oil (UCO). Nilai investasi proyek ini Rp 40 triliun dan kebutuhan tenaga kerjanya sebanyak 29.652 orang.

