Emas Naik karena Ekspektasi Bunga The Fed Turun, Perak Catat Level Tertinggi Sepanjang Masa
Poin Penting
| ● | Harga emas naik ke level tertinggi enam minggu didorong ekspektasi pemangkasan suku bunga. |
| ● | Perak mencapai level tertinggi sepanjang masa menjelang rilis data ekonomi AS. |
| ● | Pasar menunggu sinyal kebijakan dari pernyataan Jerome Powell. |
JAKARTA, Investortrust.id - Harga emas naik pada Senin (1/12/2025) ke level tertinggi dalam enam minggu di tengah meningkatnya ekspektasi pemangkasan suku bunga Federal Reserve (The Fed) dan pelemahan dolar AS yang mendorong daya beli investor global.
Kenaikan ini terjadi ketika pasar menimbang dampak data ekonomi Amerika Serikat yang lebih lemah dari perkiraan terhadap arah kebijakan moneter bank sentral.
Harga emas spot naik 0,2% menjadi US$ 4.239,35 per ons, level tertinggi sejak 21 Oktober 2025. Kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Februari meningkat 0,4% menjadi US$ 4.273,30 mengikuti sentimen yang sama di pasar komoditas.
Pergerakan harga perak menguat lebih tajam dibandingkan emas. Perak naik 3,7% menjadi US$ 558,49 per ons dan mencatat rekor tertinggi sepanjang masa. Kenaikan ini dipicu kombinasi pelemahan dolar AS dan ekspektasi penurunan suku bunga yang mendorong permintaan terhadap aset lindung nilai.
Dolar AS melemah ke titik terendah 2 minggu dan membuat emas lebih menarik bagi investor yang memegang mata uang lainnya. Kondisi tersebut memperkuat tren kenaikan yang sudah terbentuk sejak akhir Oktober.
Baca Juga
Harga Emas Antam (ANTM) Naik Rp 30.000 Saat The Fed Dovish, Mengapa?
Direktur Perdagangan Logam High Ridge Futures David Meger mengatakan dinamika kebijakan moneter global terus menjaga momentum positif logam mulia. “Lingkungan yang mendasari ekspektasi penurunan suku bunga lebih lanjut, bersama dengan tekanan inflasi yang masih di atas target Fed... masih menjadi penopang mendasar bagi emas dan perak,” kata Meger dilansir CNBC.
Ekspektasi pasar terhadap pemangkasan suku bunga menguat setelah serangkaian data ekonomi AS menunjukkan penurunan momentum dan pejabat Fed memberikan sinyal dovish. Para pedagang meningkatkan taruhan penurunan suku bunga pada Desember dengan probabilitas mencapai 87% setelah pernyataan Gubernur Fed Christopher Waller dan Presiden Fed New York John Williams menunjukkan kecenderungan pelonggaran.
Suku bunga yang lebih rendah biasanya menguntungkan emas karena aset tersebut tidak memberikan imbal hasil dan menjadi lebih kompetitif dibandingkan obligasi pemerintah
Pasar Menanti Data Ekonomi AS
Investor masih menunggu sejumlah data ekonomi utama AS yang akan dirilis pekan ini. Agenda mencakup rilis data ketenagakerjaan Automatic Data Processing (ADP) November pada Rabu dan Indeks Pengeluaran Konsumsi Pribadi (personal consumer expenditure/PCE) September yang sempat tertunda, indikator inflasi yang menjadi acuan utama Fed.
Data tersebut diperkirakan memberi gambaran lebih jelas tentang apakah inflasi melandai cukup cepat untuk mendukung sikap dovish.
Pernyataan Ketua Fed Jerome Powell pada Senin juga dinilai memberikan petunjuk arah kebijakan berikutnya. Pasar memperkirakan Fed akan menjaga retorika berhati-hati sembari membuka ruang penurunan suku bunga apabila inflasi bergerak konsisten menuju target.
Baca Juga
Ekspektasi pergantian kepemimpinan Fed turut mempengaruhi sentimen pasar. Penasihat ekonomi Gedung Putih Kevin Hassett mengatakan pada Minggu (30/11/2025) bahwa pihaknya bersedia menjabat sebagai ketua Fed berikutnya jika terpilih. Menteri Keuangan Scott Bessent menyampaikan ketua baru dapat diumumkan sebelum Natal, menambah spekulasi arah kebijakan moneter AS pada tahun depan.
Meger menilai kedua logam masih memiliki ruang pertumbuhan dalam jangka pendek. “Kami masih melihat emas dan perak dalam tren sideways yang kuat hingga tren naik yang lebih tinggi,” kata Meger.

