Holyshine, Secercah Harapan dari Usaha ‘Handmade’ Perhiasan Bali
Poin Penting
• Holyshine BeadArt menjadi contoh ketangguhan UMKM Bali, mampu bertahan saat pandemi.
• Dukungan kredit BPD Bali sejak 2022 menjadi penopang penting ekspansi usaha dan pemulihan pascapandemi.
• Industri perhiasan Indonesia menunjukkan potensi kuat, dengan nilai ekspor mencapai US$4,05 miliar.
• Kebangkitan UMKM sejalan dengan pemulihan ekonomi Bali yang tumbuh 5,88%, namun masih dihadapkan pada tantangan literasi keuangan, diversifikasi usaha, dan akses pembiayaan.
GIANYAR - Di sebuah rumah di Desa Petak Kaja, suara ketukan halus dari mote dan logam terdengar seperti doa yang dibisikkan perlahan. Di ruang produksi Holyshine BeadArt, sejumlah perempuan duduk dengan telaten, jarinya menari di antara benang dan manik-manik, merangkai bukan hanya perhiasan, tetapi juga harapan baru bagi keluarganya.
Usaha yang dirintis Ni Wayan Kasiarthi sejak 1997 itu tumbuh dari gubuk yang dulu hampir roboh—rumah yang, menurutnya, “kalau dilempar batu mungkin langsung ambruk.” Dari ruang sempit itulah lahir mimpi yang kini menjadi penopang hidup bagi 70 perempuan di Petak Kaja. Sebagian bekerja di workshop, sebagian lainnya bekerja dari rumah, beraktivitas sambil merangkai gelang.
Sistem fleksibel itu menjadi penyelamat ketika pandemi Covid-19 menutup rapat arus wisata ke Bali. Satu per satu UMKM tumbang, sementara pesanan perhiasan anjlok nyaris ke titik beku. Namun Kasiarthi memilih bertahan. “Para ibu ini bergantung pada pekerjaan ini,” ujarnya, saat ditemui investortrust.id di rumah produksinya yang asri, pekan lalu. Ia tampak menaruh empati pada para karyawannya, yang sebagian besar perempuan.
Dalam keheningan pandemi, ia mengambil langkah yang cukup nekat: berdandan, memakai produknya sendiri, lalu memotret dan mengunggahnya ke media sosial. “Waktu itu, saya pede saja,” kenangnya sambil tertawa. Dari unggahan sederhana itu, respons mulai datang dari luar negeri. Ia kemudian mendorong mitranya, IBU Jewels, untuk memperkuat pemasaran digital dan membuka jalur baru ke pasar internasional.
Handmade yang Menjaga Identitas Bali
Di tengah industri yang makin mengandalkan mesin, Holyshine tetap setia pada filosofi awal: semua harus dibuat dengan tangan. Gelang, cincin, kalung, hingga liontin dirangkai dari mote, kulit, logam, perak, hingga emas, semuanya berakar pada budaya Bali. Motif-motifnya meminjam siluet pura, lekuk awan, hingga warna tanah dari sawah Gianyar. Di mata wisatawan, kombinasi etnik-modern itu memberi “rasa Bali” yang khas—lebih dari sekadar suvenir.
Namun kualitas seperti itu menuntut ketelitian luar biasa. Dan kualitas tidak lahir dari pekerja yang datang dan pergi. “Dari 1997 sampai sekarang tidak ada satu pun karyawan yang resign,” kata Wayan, matanya berbinar. “Itu keberuntungan saya.”
Kesetiaan para perajin menjadi fondasi saat Holyshine kembali bangkit setelah pandemi. Namun bangkitnya permintaan berarti modal harus ikut naik. Di sinilah peran BPD Bali hadir sebagai “dewi kesejahteraan”, begitu Wayan menyebutnya. Ia mengajukan pinjaman Rp 200 juta pada 2022 untuk memenuhi pesanan internasional yang melesat. Seiring dengan kemajuan usaha dan perkembangan asetnya, plafon kredit Holyshine sudah melonjak lebih dari Rp 5 Miliar.
Kredit dari BPD Bali itu bukan hanya memperbesar kapasitas produksi dan perluasan usaha, tetapi juga mengubah hidup Wayan secara personal. Dari gubuk reyot, ia kini tinggal di rumah idaman di lahan 30 are—sebuah simbol perjalanan panjang perempuan Bali yang tidak pernah berhenti percaya pada kerja keras.
Potensi Industri Perhiasan
Kisah Holyshine sesungguhnya adalah serpih kecil dari mozaik besar industri perhiasan Indonesia. Sepanjang Januari–Juni 2025, nilai ekspor perhiasan dan barang berharga Indonesia mencapai US$4,05 miliar atau sekitar Rp67 triliun, tumbuh 23% dari tahun sebelumnya. “Indonesia memiliki tradisi panjang dalam pembuatan perhiasan. Produk kita diminati dunia,” ujar Menteri Perindustrian Agus Gumiwang.
Dari Surabaya International Jewellery Fair, Jakarta International Jewellery Fair, hingga Bandung Jewellery Fair, ekosistem industri ini terus dipromosikan sebagai wajah elegan kreativitas Indonesia. Direktur Jenderal IKMA, Reni Yanita, menegaskan bahwa pangsa ekspor Indonesia telah mencapai 2,5% dari pasar dunia pada 2024—menempatkan Indonesia di posisi ke-12 global.
Apalagi sejak hadirnya Bank Bullion pada Februari 2025, pelaku IKM perhiasan kini lebih mudah mengakses bahan baku emas dengan harga dan likuiditas terukur. Ini membuka jalan agar industri kecil—seperti Holyshine, dan ribuan lainnya—bisa masuk ke rantai industri nasional.
“Tinggal bagaimana mereka terus berinovasi, memanfaatkan pameran internasional, hingga memodernisasi produksi,” kata Reni.
UMKM Pendorong Ekonomi
Pemulihan UMKM perhiasan seperti Holyshine sejalan dengan pulihnya Bali secara keseluruhan. Pada triwulan III 2025, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekonomi Bali tumbuh 5,88%, sebuah angka yang kembali mendekati ritme prapandemi. Dari 17 lapangan usaha, 16 tumbuh positif. Motor utamanya tetap pariwisata.
UMKM menjadi nadi dari lanskap ini—97% dari aktivitas sektor akomodasi, makanan-minuman, perdagangan, dan transportasi digerakkan unit usaha kecil. Kredit mikro pun menyentuh 40,93% dari total kredit UMKM, dengan penyaluran KUR mencapai Rp8,03 triliun hingga September 2025.
Meski begitu, tantangan klasik tetap menghantui: kapasitas pelaku usaha, literasi keuangan, dan ketergantungan pada pariwisata. Banyak pelaku UMKM masih ragu berinovasi dan bertahan di zona nyaman. Karena itu, dirasa perlu adanya pendampingan jangka panjang, pelatihan, hingga diversifikasi usaha.

