Impor Kakao Meroket untuk Penuhi Permintaan Industri Cokelat Domestik
JAKARTA, investortrust.id – Impor kakao Indonesia terus meningkat sepanjang 2020–2024 guna memenuhi kebutuhan bahan baku industri pengolahan cokelat nasional.
Ketua Dewan Kakao Nasional Soetanto Abdoellah, menyampaikan bahwa kenaikan impor terutama disebabkan oleh meningkatnya impor biji kakao untuk mendukung kapasitas pabrik dalam negeri.
“Karena untuk memenuhi kebutuhan pabrik-pabrik yang ada di Indonesia,” ujar Soetanto dalam diskusi mengenai peran kakao di Denpasar, Bali, Senin (24/11/2025).
Baca Juga
Perkebunan Kakao Tanah Air Diadang Masalah Lahan hingga EUDR
Pertumbuhan konsumsi cokelat dalam negeri selama 2015–2024 tidak diimbangi peningkatan produksi perkebunan kakao lokal. Kondisi ini menjadi pemicu utama kenaikan impor.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), impor kakao mencatat tren peningkatan dalam empat tahun terakhir, yaitu 2020: 243.334 ton, 2021: 304.359 ton, 2022: 313.493 ton, dan 2023: 340.451 ton.
Pada 2024 impor turun menjadi 236.142 ton, namun harga kakao justru meningkat tajam akibat lonjakan harga biji kakao global.
Baca Juga
Wahana Interfood (COCO) Diversifikasi ke Produk Turunan Kakao, Operasional Mulai Kuartal IV 2026
Pada 2024 impor biji kakao tercatat 157.394 ribu ton, turun dibanding 2023 yang mencapai 276.682 ribu ton, namun secara nilai naik dari US$ 732,2 juta (2023) menjadi US$ 1,06 miliar (2024). “Kalau harga biji (kakao) naik, semua harganya naik. Karena semuanya dari biji,” kata Soetanto.
Sementara itu, analis ahli madya DJSEF Kementerian Keuangan Nurlaidi menilai, rendahnya produktivitas perkebunan kakao menyebabkan ketergantungan impor terus meningkat. Dengan total luas lahan 1,47 juta hektare, Indonesia hanya mampu memproduksi 210 ribu ton per tahun, atau 0,2 ton per hektare per tahun.
Baca Juga
Ekspor Nonmigas Dongkrak Surplus Perdagangan RI, Kakao & Kopi Jadi Primadona
Dibandingkan negara lain, produktivitas Indonesia masih tertinggal:
Nurlaidi menyebut penurunan produksi dipicu oleh menurunnya kualitas tanaman kakao nasional.
“Kalau menurut sumbernya, 67% tanaman (kakao) sudah menua,” jelasnya.
Penuaan tanaman menyebabkan produksi turun, sekaligus membuat kualitas biji kakao lokal semakin tak memenuhi standar kebutuhan industri.

