Industri Cokelat Premiun Tumbuh di Tengah Melambungnya Harga Bahan Baku
JAKARTA, investortrust.id - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyebutkan, industri cokelat artisan bean to bar yang tergolong industri olahan kakao semakin tumbuh di tengah harga bahan baku biji kakao yang merangkak naik.
Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin Putu Juli Ardika menilai, kondisi ini menunjukkan sinyal positif bahwa industri cokelat premium mempunyai potensi berkembang di masa depan sejalan meningkatnya kesadaran konsumen terhadap produk cokelat berkualitas.
Baca Juga
Posisi Indonesia sebagai Produsen Kakao Turun Jadi Peringkat 4 Dunia, Ini Pemicunya
"Pada 2023 terdapat 15 industri cokelat artisan dan meningkat menjadi 47 industri pada 2024," ucap Putu dalam acara lokakarya nasional di kantor Kemenperin, Jakarta, Rabu (15/1/2025).
Sebagai gambaran, cokelat artisan adalah cokelat yang dibuat dengan tangan menggunakan biji kakao berkualitas tinggi dengan proses produksi secara khusus. Cokelat artisan memiliki rasa khas dan tekstur yang sempurna.
Putu menjelaskan, keistimewaan biji kakao Indonesia memiliki keragaman cita rasa yang khas pada setiap daerah penghasil kakao, seperti Jembrana Bali dengan karakter honey, Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan karakter nutty, dan Sulawesi dengan ciri khas floral-nya.
Baca Juga
Ekspor Kakao Asal Indonesia Moncer, Terkerek Harga Pasar Global
Kendati demikian, pertumbuhan kakao olahan mengalami sejumlah tantangan pada 2024, di antaranya gagal panen akibat perubahan iklim di Ghana dan Pantai Gading yang merupakan produsen utama kakao dunia. Dampaknya, harga kakao di pasar dunia meningkat secara drastis.
Tercatat pada 2023 harga biji kakao masih di angka US$ 3.280 per ton dan terus merangkak naik secara fluktuatif sepanjang 2024 dengan nilai rerata tertinggi pada akhir tahun mencapai US$ 10.556 per ton. "Kenaikan harga bahan baku tentu memberikan pukulan telak bagi industri pengolahan kakao. Diperkirakan utilisasi 2024 turun dibandingkan 2023 yang mencapai 61%," ungkap Putu.

