SKK Migas Ungkap Tren Dunia di 2024 yang Bisa Pengaruhi Kinerja Hulu Migas
JAKARTA, investortrust.id - Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), Dwi Soetjipto, memaparkan sejumlah tren di dunia pada 2024 yang bisa mempengaruhi kinerja sektor hulu migas.
Dwi menyebutkan salah satu tren yang cukup menjadi perhatian adalah estimasi pertumbuhan ekonomi dunia menurut AIMF diperkirakan 3,1% di tahun 2024. Inflasi dunia, khususnya AS turun lebih cepat dari perkiraan sehingga permasalahan sisi penawaran akibat kebijakan moneter yang ketat diharapkan lebih cepat melunak.
“Kemudian dari geopolitik, saya kira masih dihadapkan pada konflik Rusia-Ukraina dan Palestina-Israel, yang mana di Palestina-Israel sedikit lebih meluas, disrupsi jalur perdagangan, serangan di laut merah saat ini cukup mengganggu kondisi geopolitik dunia,” ujar Dwi dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi VII DPR, Rabu (13/3/2024).
Baca Juga
Paparkan Kinerja 2023, Dwi Soetjipto: Investasi Hulu Migas Capai US$ 13,7 Miliar
Adapun yang menjadi faktor lainnya adalah perubahan iklim dan trilemma energi. Trilemma energi sendiri merupakan kerangka kerja untuk mengadopsi kebijakan energi dengan mempertimbangkan ketahanan energi, kelestarian lingkungan, dan energi yang terjangkau.
“Tingginya harga-harga energi, lonjakan harga komoditas, termasuk akibat serangan di laut merah. Kemudian proyek-proyek energi ramah lingkungan, menghadapi hambatan inflasi biaya, hambatan rantai pasokan, dan biaya pinjaman yang lebih tinggi. Ini sekarang yang dihadapi untuk proyek-proyek energi, termasuk hulu migas ini,” ungkapnya.
Lebih lanjut Dwi menyampaikan, dalam hal supply demand, tren lebih mengutamakan ketahanan atau keamanan (security), dan kemudian baru masuk ke keterjangkauan (affordibility energy). Sehingga tekanan untuk EBT belakangan agak kurang, dan tidak sekencang beberapa tahun yang lalu.
Baca Juga
Industri Hulu Migas Torehkan Kinerja Menggembirakan, Ini Buktinya!
Selanjutnya yang menjadi faktor lainnya adalah gas dan transisi energi. Permintaan gas dunia disebutnya meningkat cukup tajam. Kemudian keekonomian proyek-proyek gas juga semakin bersaing, serta tren teknologi dengan adanya floating LNG, LNG modular, dan sebagainya.
“Keekonomian gas semakin bersaing karena di satu sisi Qatar memiliki proyek yang akan beroperasi beberapa tahun ke depan, sehingga ini menekan harga untuk kontrak-kontrak yang jangka panjang ke depan,” sebut Dwi.
Adapun dari sisi investasi, Dwi mengatakan investasi global di 2023 meningkat 7,2%, dan diharapkan terus membaik di 2024. Dari investasi yang meningkat 7,2% tersebut ada kenaikan biaya sampai 5% dari FID dan tantangan rantai suplai.
Baca Juga
Kementerian ESDM Teken Perjanjian Sewa BMN Hulu Migas Senilai Rp 19,5 Miliar
“Lalu peluang eksplorasi, siklus waktu yang lebih cepat, emisi rendah, dan biaya sumber daya rendah. Ini yang untuk kebutuhan kita antisipasi di dalam meningkatkan eksplorasi, di mana diharapkan tidak seperti di masa lalu, yang siklusnya sangat lama seperti Abadi Masela,” katanya.
Dwi menegaskan bahwa ke depannya mulai dari temuan, eksplorasi, hingga produksi dicanangkan untuk menjadi sangat cepat. Selain itu, proyeknya juga akan menuntut emisi yang rendah, dan biaya sumber daya juga rendah.

