Ilham Habibie: Generative AI akan Warnai Industri Fintech
JAKARTA, Investortrust.id – Industri teknologi keuangan (financial technology) di era digital akan semakin berkembang ke depan. Salah satunya berkat kehadiran generative artificial intelligent (AI) yang akan meningkatkan efisiensi dan efektivitas dalam layanan keuangan digital.
“Peningkatan efektivitas berkat adanya co-pilot yang sesungguhnya tidak lain adalah generative AI, yang sangat personal buat kita. Saya kira kita bisa membayangkan fitur itu juga bisa diterapkan di dunia keuangan,” ujar Ketua Tim Pelaksana Dewan Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional (Wantiknas) Ilham Akbar Habibie, dalam Focus Group Discussion (FGD) bertema “Implementation Digital Finance 2024 & Beyond”, di The Habibie - Ainun Library, Jakarta, Kamis (5/10/2023).
Dalam FGD yang dipandu Pemimpin Redaksi Investortrust.id Primus Dorimulu tersebut, juga menghadirkan Kepala Departemen Pengawasan Lembaga Keuangan Mikro dan Jasa Keuangan Lainnya OJK Edi Setijawan, anggota Dewan Pengarah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Marsudi Wahyu Kisworo, Ketua Umum Asosiasi Fintech Syariah Indonesia (AFSI) Ronald Yusuf Wijaya, CEO Izidata Indonesia Sigit Pratama, serta sejumlah pemimpin perusahaan jasa keuangan digital dari Tiongkok.
Ilham menjelaskan, generative AI bisa diterapkan dalam aplikasi fintech seperti digital lending, digital investment, digital trading, dan juga digital banking. Fitur generative AI tersebut akan mendampingi semua aplikasi keuangan digital dan berfungsi sebagai co-pilot yang memungkinkan pekerjaan dan proses analisis lebih efektif dan efisien.
“Jadi kalau kita memiliki track record pembayaran atau investasi, misalnya, kita bisa bertanya kepada AI itu seperti Chat GPT yang personalized, yang bisa juga kita sebut dengan istilah fitur co-pilot,” jelasnya.
Menurutnya, perkembangan digital finance telah berkembang menjadi sebuah ekosistem. Seringkali, perusahaan fintech juga menawarkan produk fintech lainnya.
“Ini apa yang dinamakan dengan world garden. Manakala kita menggunakan aplikasi tertentu, kita seringkali didorong menggunakan aplikasi fintech lain yang dikembangkan, seperti e-commerce, ride hailing, edutech, atau healthtech. Semua itu perlu ada pembayaran yang disediakan oleh penyedia jasa lainnya entah bagian dari ekosistem mereka atau juga ada kolaborasi dengan fintech lainnya. Jadi kita juga melihat fintech dari konteks kolaborasi dengan penyedia jasa atau penjual produk lain,” paparnya.
Dalam pandangan Ilham, perkembangan fintech ke depan tidak bisa 100% digital. Sebab, harus disadari ada banyak sekali dan mayoritas di Indonesia tidak mulai hidupnya dengan digital bank. “Mereka belum 100% nyaman secara digital. Masih ada keperluan dari masyarakat atau nasabah untuk dilayani secara konvensional. Dengan Demikian, cabang-cabang (bank) yang sudah cukup banyak, bisa dikurangi tetapi tidak bisa dinolkan,” ujarnya.
Ilham menambahkan, digital finance juga memberikan manfaat dari aspek keadilan berupa meningkatnya inklusi keuangan. “Orang yang sebelumnya tidak masuk dalam radar perbankan atau tidak bankable, atau juga karena jauh lokasinya sehingga tidak ada bank, bahkan tidak ada pendidikan jasa keuangan, dengan adanya digital finance mereka bisa menikmati manfaat jasa keuangan. Hal ini ditunjang oleh konektivitas digital di Indonesia yang sudah memadai,” jelasnya.
Namun, di sisi lain, Ilham mengingatkan, semua manfaat yang didapat dari fitur-fitur dalam fintech tidak datang dengan mudah. “Kalau kita tidak hati-hati, justru yang semula kita mengandalkan, bisa menjadi menyesatkan,” katanya.
Untuk itulah, lanjutnya, sebagai pengguna teknologi, khususnya fintech, harus memiliki literasi teknologi keuangan digital. “Sebagai warga yang menggunakan teknologi digital, harus mengembangkan critical thinking, di mana apapun yang kita terima harus melalui proses kurasi, baru kita jalani,” tandasnya. (CR-2)

