Kemenhub Targetkan Integrasi Tarif Transportasi Jabodetabek Rampung Akhir 2025
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menargetkan integrasi tarif transportasi massal di Jabodetabek, yakni PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) atau moda commuter line, dapat rampung pada akhir 2025.
Direktur Jenderal Integrasi Transportasi dan Multimoda (Dirjen Intram) Kemenhub, Risal Wasal menyatakan, pihaknya tengah menyiapkan sistem pembayaran dan tarif terintegrasi lintas moda yang memudahkan pengguna berpindah antarmoda hanya dengan satu kali transaksi.
“Ke depan kita mengajak KCI juga ikut ke dalam tarif yang terintegrasi. Kemarin baru Perseroda, dari MRT - LRT Jakarta, belum KCI. Nah, ke depan KCI akan bergabung,” ungkap Risal di Hotel Borobudur, Jakarta, Rabu (5/11/2025) malam.
Baca Juga
Kemenhub Siapkan Posko Terpadu Nataru 2025/2026 Selama 19 Hari, Libatkan 12.000 Personel
Ia menjelaskan, sistem pembayaran digital menggunakan QRIS tap sudah diluncurkan bersama Bank Indonesia (BI) sebagai bagian dari upaya menuju integrasi penuh. Adapun nilai tarif terintegrasi masih dalam proses perhitungan. “Targetnya 2025, akhir tahun ini sudah bisa (pembayaran multimoda terintegrasi). Sistemnya sudah ada, tinggal ngobrol-ngobrol saja,” ucap Risal.
Risal menambahkan, tahap awal integrasi akan difokuskan pada commuter line sebagai proyek percontohan sebelum diterapkan pada LRT Jabodebek. “LRT Jabodebek belum, kita masih ke KCI dulu (buat pilot project, red),” tuturnya.
Sebelumnya, Kemenhub berencana memperluas skema integrasi tarif Rp 10.000 lintas moda ke layanan PT KCI dan LRT Jabodebek. Dirjen Intram Kemenhub, Risal Wasal menjelaskan, saat ini integrasi tarif sudah berlaku di Jakarta untuk Transjakarta, MRT Jakarta, dan LRT Jakarta. Skema ini memungkinkan masyarakat melakukan perjalanan lintas moda dalam tiga moda dengan tarif maksimum Rp 10.000.
“Ke depan, integrasi tarif ini akan menghubungkan moda lain di bawah PT Kereta Api Indonesia, termasuk KAI Commuter dan LRT Jabodebek,” kata Risal beberapa waktu lalu.
Baca Juga
Menurut Risal, langkah ini menjadi fondasi menuju konsep mobility as a service (MaaS), yakni berbagai moda transportasi dapat direncanakan, dipesan, dan dibayar dalam satu platform terintegrasi.
Risal mengungkapkan, pengeluaran masyarakat untuk transportasi masih relatif tinggi yakni 12,46% dari total biaya hidup, sementara standar ideal menurut Bank Dunia tidak lebih dari 10%. "Biaya sebesar itu tentu menjadi beban bagi masyarakat, dengan integrasi tarif dan sistem pembayaran terpusat, beban itu bisa ditekan," jelasnya.

