Bagikan

ATSI dan APJII Tanggapi Wacana Internet Satelit Langsung ke HP, Perlu Kajian Matang

Poin Penting

Kemenkomdigi kaji layanan satelit langsung ke ponsel (NTN-D2D) untuk perluasan internet.
ATSI minta model bisnis adil agar operator seluler tak dirugikan investasi jaringan.
APJII sebut teknologi pelengkap, dorong sinergi seluler, broadband, dan satelit.



JAKARTA, investortrust.id -
Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemenkomdigi) tengah mengkaji penerapan teknologi Non-Terrestrial Network Direct-to-Device (NTN-D2D), atau layanan internet satelit langsung ke ponsel. Teknologi ini memungkinkan ponsel terhubung langsung ke satelit tanpa menara BTS, serupa dengan konsep layanan direct-to-cell milik Starlink.

Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI) menilai wacana ini perlu kajian bisnis yang matang dan adil. Direktur Eksekutif ATSI Marwan O Baasir mengingatkan agar teknologi baru tidak merugikan operator seluler yang telah berinvestasi besar dalam pembangunan jaringan nasional.

“Operator sudah bangun jaringan, memelihara, dan melayani pelanggan dengan kualitas yang terus ditingkatkan. Kalau tiba-tiba ada pemain baru langsung menjual layanan ke pelanggan tanpa membangun jaringan, tentu tidak fair,” ujarnya Selasa (28/10/2025).

Marwan menekankan pentingnya kejelasan model bisnis dan regulasi sebelum implementasi dilakukan. “Harus jelas bisnis modelnya seperti apa, hitung-hitungannya bagaimana, supaya tetap fair,” tambahnya.

Saat ini, operator seluler Indonesia diketehui telah mengoperasikan sekitar 700 ribu base transceiver station (BTS) yang menopang konektivitas nasional. Investasi besar itu mencakup pembangunan jaringan backhaul, pemeliharaan infrastruktur, dan peningkatan kualitas layanan di berbagai wilayah.

Baca Juga

Mirip Teknologi Starlink, Kemenkomdigi Sedang Kaji Internet Satelit Langsung ke HP


Sementara itu, Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menilai teknologi NTN-D2D merupakan bagian dari evolusi industri telekomunikasi. Ketua Umum APJII Muhammad Arif menyebut, inovasi seperti ini tidak seharusnya dianggap sebagai ancaman, melainkan pelengkap ekosistem yang sudah ada.

“Teknologi akan terus berkembang dan tidak bisa dibendung. Tapi bukan berarti menggantikan yang lain, justru saling melengkapi karena setiap layanan punya pasarnya masing-masing,” kata Arif.

Di sisi lain, Arif menilai jika sinergi antara seluler, fixed broadband, dan satelit justru akan memperkuat pemerataan akses internet di seluruh Indonesia. “Apapun teknologi ke depan, semua akan menyesuaikan dengan kebutuhan masyarakat,” jelasnya.

Sekadar informasi, Kemenkomdigi membuka konsultasi publik melalui Call for Information (CFI) untuk menghimpun pandangan dari industri terkait potensi penerapan teknologi NTN-D2D.

Kajian ini menjadi bagian dari Rencana Strategis 2025-2029 yang mendukung target perluasan konektivitas digital nasional dan visi Indonesia Emas 2045.

The Convergence Indonesia, lantai 5. Kawasan Rasuna Epicentrum, Jl. HR Rasuna Said, Karet, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Pusat, 12940.

FOLLOW US

logo white investortrust
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor1188/DP-Verifikasi/K/III/2024