Menperin Agus: Perlindungan Pasar Domestik Jadi Prioritas Tertinggi
JAKARTA, investortrust.id – Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan bahwa perlindungan pasar domestik menjadi prioritas tertinggi pemerintah dalam menjaga ketahanan industri nasional. Ia menyebut, sekitar 80% hasil industri nasional saat ini telah diserap oleh pasar dalam negeri.
Kebijakan ini menjadi salah satu poin utama dalam Strategi Baru Industrialisasi Nasional (SBIN) yang baru diluncurkan sebagai kerangka pembangunan industri jangka panjang menuju Indonesia Emas 2045.
Baca Juga
Jawab Tantangan Global, Kemenperin Luncurkan Strategi Baru Industrialisasi Nasional
“Saya ingin menegaskan bahwa perlindungan pasar domestik adalah prioritas tertinggi. Realitas menunjukkan bahwa 80 persen output industri kita diserap di pasar domestik, sementara hanya 20 persen yang diekspor,” ujar Agus di Jakarta, Senin (27/10/2025).
Menperin menjelaskan bahwa stabilitas pasar domestik merupakan kunci ketahanan industri nasional agar tidak mudah terpengaruh gejolak global. Karena itu, pemerintah akan memperkuat penerapan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) agar belanja pemerintah benar-benar berpihak kepada produk industri nasional.
Selain itu, instrumen tarif dan non-tarif juga akan dioptimalkan untuk mengendalikan arus masuk produk impor. Kebijakan proteksi tersebut bukan dimaksudkan untuk menutup diri, tetapi untuk menciptakan ruang tumbuh bagi pelaku industri dalam negeri agar dapat berinovasi dan bersaing secara sehat.
Baca Juga
Emas Antam (ANTM) Merosot Rp 45.000 karena Meredanya Tensi Dagang AS–Tiongkok
“Banyak industri kita kalah bukan karena tidak mampu, tetapi karena pasar dibanjiri produk impor tanpa kendali. Kebijakan proteksi ini bukanlah proteksi buta, melainkan ruang bagi industri nasional untuk tumbuh, berinovasi, dan menjadi kompetitif,” tegas Agus.
Selain memperkuat pasar domestik, Kemenperin juga akan mendorong ekspansi industri ke pasar global melalui diversifikasi ekspor dan diplomasi industri yang lebih proaktif. Negara-negara non-tradisional akan menjadi target utama pengembangan pasar, sekaligus memperluas partisipasi Indonesia dalam rantai pasok global.
Salah satu sektor yang menjadi fokus ekspor masa depan adalah kendaraan listrik berbasis baterai (KBLBB). Indonesia dinilai memiliki keunggulan strategis berkat ketersediaan bahan baku nikel yang melimpah. Kebijakan ini diharapkan dapat memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat produksi kendaraan listrik di Asia Tenggara.

