Pengusaha Usul Pemerintah Terapkan DMO Gas Demi Jamin Pasokan untuk Industri
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki) menyoroti persoalan pasokan dan harga gas bumi yang belum optimal bagi industri manufaktur nasional.
Ketua Umum Asaki Edy Suyanto menilai realisasi harga gas bumi tertentu (HGBT) senilai US$ 6–7 per MMBTU baru mencapai sekitar 60%, jauh dari target ideal untuk menjaga daya saing industri.
Baca Juga
Pasokan Gas Murah Terbatas, Kadin Usul Pemerintah Bisa Buka Keran Impor
Edy mengusulkan agar pemerintah menerapkan kebijakan domestic market obligation (DMO) untuk gas bumi, serupa dengan kebijakan pada sektor batu bara, guna memastikan pasokan energi terjangkau bagi industri dalam negeri. “Kami berharap pemerintah juga memikirkan kebijakan serupa DMO untuk gas bumi, agar pasokan energi nasional lebih terjamin dan industri tetap berdaya saing,” ujar Edy saat ditemui di Menara Kadin, Selasa (7/10/2025).
Menurut Edy, sekitar 50%–60% wilayah industri masih mengalami pembatasan alokasi gas industri tertentu (AGIT). Akibatnya, sejumlah pelaku usaha harus membeli gas dengan harga tinggi mencapai US$ 16–17 per MMBTU. “Kami berharap realisasi gas murah bagi industri bisa mencapai 85%. Dengan demikian, sektor manufaktur bisa tumbuh lebih sehat dan efisien,” tegasnya.
Ketentuan HGBT sendiri tertuang dalam Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 76.K/MG.01/MEM.M/2025, yang menetapkan harga gas untuk bahan bakar sebesar US$ 7 per MMBTU dan untuk bahan baku US$ 6,5 per MMBTU.
Baca Juga
Harga gas Indonesia masih mahal di kawasan
Edy juga menyoroti perbandingan harga gas di Asia Tenggara. Di Malaysia, harga gas bumi dijual sekitar US$ 10,05 per MMBTU, sedangkan di Thailand, harga LNG mencapai US$ 10,2 per MMBTU. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan biaya yang harus ditanggung industri keramik Indonesia.
“Hitungan kami, dengan realisasi 85%, sisanya 15% masih bisa menggunakan regasifikasi LNG. Namun, harga US$ 15,3 per MMBTU itu terlalu tinggi dibandingkan LNG di negara lain. Harapan kami bisa di kisaran US$ 10 per MMBTU,” jelas Edy.

