Dari Batu Bara ke Surya hingga Angin, PLN Tancap Gas ke Energi Hijau
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - PT PLN (Persero) mendorong transisi energi untuk mencapai target net zero emission pada 2060. Salah satu upaya yang dilakukan PLN, yakni melakukan transisi dari batu bara ke energi baru terbarukan, seperti surya hingga angin.
"Program dekarbonisasi di kami, itu bagaimana pembangkit-pembangkit eksisting kami yang mungkin saat ini dominannya adalah pembangkit yang bersumber dari energi primernya batu bara, itu kemudian kita transisi ke energi baru terbarukan," kata Vice President Perencanaan Strategis Pembangkitan pada Direktorat Manajemen Pembangkitan PT PLN (Persero) Parulian Noviandri Executive dalam Investortrust Green Summit 2025 di Jakarta, Selasa (23/9/2025).
Baca Juga
Komisi XII DPR: TJSL PLN Kunci Inklusivitas Pembangunan Energi
Parulian mengungkapkan untuk mewujudkan hal tersebut, PLN tidak serta merta 'menyuntik mati' pembangkit batu bara. Transisi akan dilakukan secara bertahap.
Parulian memaparkan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034. RPTUL tersebut menjadi pedoman bagi PLN dalam mencapai target net zero emission. "Di RUPTL 2025-2034 ini, 76% nanti penambahan kapasitas dominannya adalah dari energi baru terbarukan," kata dia.
Sumber energi baru terbarukan meliputi, angin, surya, panas bumi, air, bioenergi. Kemudian ada juga dari nuklir kurang lebih 500 megawatt atau 0,5 gigawatt. "Memang dari 69,5 gigawatt ini masih ada di masa transisi, nanti pembangkit yang kita bangun di luar energi baru terbarukan, tetapi ini masa transisi, itu masih ada 10,3 gigawatt dari gas dan 6,3 gigawatt dari batu bara," ungkapnya.
Baca Juga
Adapun sejumlah tantangan yang dihadapi PLN dalam transisi energi, antara lain ketidaksesuaian antara lokasi potensi energi baru terbarukan dan permintaan listrik. Ia mencontohkan, potensi hidro banyak terdapat di Kalimantan dan Sumatra, sementara permintaan terbesar di Pulau Jawa. Untuk menjawab tantangan tersebut, PLN akan membangun green supergrid sepanjang 48.000 km yang menghubungan pusat potensi dengan pusat beban.
"Tantangan berikutnya memang soal investasi. Jadi untuk kita menuju ke sana sesuai dengan RUPTL 2025-2034, tantangan berikutnya adalah investasi. Dibutuhkan kurang lebih US$ 188 miliar atau kurang lebih Rp 2.000-3.000 triliun untuk bagaimana apa yang tadi kita buat dalam RUPTL itu bisa terwujud di 2034," ungkapnya.

