Pudar Gencatan Senjata di Timur Tengah, Harga Minyak Stabil
JAKARTA, investortrust.id - Harga minyak relatif stabil pada Selasa (9/4/2024), di tengah berkurangnya prospek negosiasi antara Israel dan Hamas untuk menghasilkan gencatan senjata di Gaza dalam waktu dekat. Pada sesi sebelumnya, harga sempat turun.
Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent berjangka naik tipis 5 sen dolar AS atau 0,1%, ke level US$ 90,43 per barel pada pukul 13.09 GMT. Namun, harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) turun 10 sen dolar AS atau 0,1%, ke posisi US$ 86,33 per barel.
Minyak berjangka Brent tercatat membukukan penurunan pertamanya dalam lima sesi pada hari Senin (8/4/2024). Sedangkan WTI mencatat penurunan pertama dalam tujuh sesi, ketika putaran baru diskusi gencatan senjata Israel di Kairo meningkatkan harapan akan adanya terobosan.
"Namun, harapan tersebut memudar setelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan tanggal telah ditetapkan untuk invasi Israel ke daerah kantong Rafah, di Gaza," kata analis IG Tony Sycamore.
Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent berjangka naik tipis 5 sen dolar AS atau 0,1%, ke level US$ 90,43 per barel pada pukul 13.09 GMT. Namun, harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) turun 10 sen dolar AS atau 0,1%, ke posisi US$ 86,33 per barel.
Minyak berjangka Brent tercatat membukukan penurunan pertamanya dalam lima sesi pada hari Senin (8/4/2024). Sedangkan WTI mencatat penurunan pertama dalam tujuh sesi, ketika putaran baru diskusi gencatan senjata Israel di Kairo meningkatkan harapan akan adanya terobosan.
"Namun, harapan tersebut memudar setelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan tanggal telah ditetapkan untuk invasi Israel ke daerah kantong Rafah, di Gaza," kata analis IG Tony Sycamore.
Selain itu, konflik ini tetap menghidupkan risiko yang dapat melibatkan negara-negara lain. Ini terutama Iran sebagai pendukung Hamas, yang merupakan produsen minyak terbesar ketiga di Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (Organization of the Petroleum Exporting Countries/OPEC).
Turki mengumumkan pada hari Selasa bahwa mereka akan membatasi ekspor berbagai produk, termasuk bahan bakar jet, ke Israel. Ini sampai ada gencatan senjata di Gaza. Israel kemudian mengatakan akan merespons dengan pembatasannya sendiri.
Sementara itu, perusahaan minyak Meksiko, Pemex, telah memangkas ekspor bulan April sebesar 436.000 bpd. Pemex menyampaikan akan mengurangi ekspor minyak mentah sebesar 330.000 barel per hari (bpd), sehingga dapat memasok lebih banyak ke kilang dalam negeri. Mereka mengurangi pasokan yang tersedia bagi pembeli minyak perusahaan tersebut di Amerika Serikat, Eropa, dan Asia.
Tunggu Data Inflasi AS
Di sisi lain, investor juga menunggu data inflasi dari AS dan Tiongkok, untuk mendapatkan sinyal lebih lanjut mengenai arah ekonomi dua konsumen minyak terbesar dunia. Investor juga menunggu keputusan suku bunga dari Bank Sentral Eropa pada hari Kamis nanti.
“Nasib suku bunga jika ada penurunan pada tahun 2024 dipertaruhkan. Kenaikan harga minyak mempersulit siapa pun yang percaya bahwa inflasi terkendali,” ujar analis PVM John Evans.
Baca Juga
Sementara itu, CEO Vitol Russell Hardy mengatakan di konferensi di Swiss, dia memperkirakan harga minyak akan diperdagangkan dalam kisaran US$ 80-100 per barel. Ia juga memperkirakan pertumbuhan permintaan minyak sebesar 1,9 juta barel per hari pada tahun 2024.

