Dirut Bulog Sebut Bansos Pangan Tak Bisa Tekan Harga Beras yang Mahal
JAKARTA, investortrust.id - Direktur Utama Perum Bulog Bayu Krisnamurthi menyebutkan bahwa penyaluran bantuan pangan tak bisa menekan harga beras yang kini melonjak. Kendati demikian, ia menilai hal tersebut bisa membantu masyarakat yang menerimanya.
Adapun diketahui, pemerintah tengah menggencarkan penyaluran bantuan pangan beras sebanyak 10 kilogram kepada 22 juta keluarga penerima manfaat (KPM). Rencananya bansos ini akan dilanjutkan setelah Pemilu 2024, yakni 15 Februari.
"Bantuan pangan yang kita salurkan dari tahun lalu, ternyata tidak berhasil menekan harga," ucap Bayu saat konferensi pers di Kantor Bulog, Jakarta Selatan, Selasa (13/2/2024).
Baca Juga
Kemenko Perekonomian Pastikan Bantuan Beras Tak Sebabkan Harga Beras Naik
Menurut Bayu, bantuan beras 10 kilogram tersebut dapat memberikan manfaat kebutuhan pangan dari 22 juta keluarga dengan kondisi ekonomi yang rendah. Ketika menerimanya, maka dipastikan tidak bakal khawatir dalam 3 bulan ke depan.
"22 juta keluarga itu enggak resah lagi karena dia sudah punya beras 10 kilogram tiap bulan, paling tidak selama 3 bulan atau mungkin 6 bulan itu aman," terangnya.
Diberitakan sebelumnya, Bayu Krisnamurthi membantah kalau penyaluran bantuan sosial (bansos) pangan beras dari pemerintah menjadi salah satu penyebab stok beras Stabilitas Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) menipis, dan bahkan langka.
Baca Juga
Beras Kemasan Langka, Bulog Salurkan 4.000 Ton dalam Satu Hari
Bayu menjelaskan bahwa pemerintah merencanakan dan mengalokasikan bansos beras dengan beras SPHP bersama-sama. Sehingga bansos beras tidak mempengaruhi stok penyaluran beras SPHP.
"Saya jawab tidak, tegas tidak," ucap Bayu saat konferensi pers di Kantor Bulog, Jakarta Selatan, Selasa (13/2/2024).

