Pasar China Kian Menuntut Produk Sawit Hilir dan Berkelanjutan
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Guna mendorong transformasi industri sawit nasional yang berkelanjutan, Indonesia menggelar Dialogue For China’s Green Policy II di Guangxi, China. Indonesia harus mendorong hilirisasi sawit dan memproduksi sawit berkelanjutan untuk menaikkan pangsa pasar di Negeri Tirai Bambu itu.
Acara ini menghadirkan berbagai tokoh kunci sektor sawit nasional dan internasional, khususnya China, untuk membahas strategi ekspor, inovasi teknologi, dan komitmen keberlanjutan. Hadir dan menyampaikan pandangannya, di antaranya Wakil Ketua Komite Konferensi Konsultatif Politik Rakyat Tiongkok Daerah Otonomi Zhuang Guangxi Mr Huang Junhua yang menekankan penting hubungan Indonesia-China, serta Wakil Direktur Jenderal Kantor Anti-Penyelundupan Guangxi, Fu Jinming.
Acara ini diinisiasi Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) yang digelar di sela China–ASEAN Expo (CAEXPO) ke-22 dan China–ASEAN Business & Investment Summit (CABIS) 2025.
Direktur Pengembangan Ekspor Produk Primer Kementerian Perdagangan (Kemendag), Miftah Farid sebagai pembicara kunci menegaskan bahwa posisi ekspor sawit Indonesia ke China telah menunjukkan tren penting dalam peta perdagangan internasional.
“Tiongkok kini menjadi salah satu pasar penting bagi sawit Indonesia. Pada semester I-2025, China menempati posisi sebagai negara tujuan utama ekspor minyak sawit Indonesia, dengan volume sekitar 1,74 juta ton, atau sekitar 14 % dari total ekspor nasional,” ungkap Miftah Farid dalam keterangannya, Sabtu (19/9/2025).
Miftah menyatakan, Indonesia harus mendorong hilirisasi, inovasi, dan praktik pertanian yang ramah lingkungan agar produk sawit Indonesia semakin berdaya saing di pasar global.
Sany Anthony, Wakil Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) memaparkan potensi besar sawit Indonesia dan pentingnya kampanye sawit berkelanjutan dan peluang kerja sama untuk produk sawit dan turunannya.
“Pasar China dan negara-negara mitra kini semakin menuntut komoditas yang bukan hanya murah, tetapi bersertifikat keberlanjutan. Inilah peluang kita untuk memperkuat kerja sama ekspor, mendukung sertifikasi ISPO/RSPO, dan mendorong nilai tambah produk sawit Indonesia,” ujar Sany Anthony.
Berdasarkan data BPS, pada semester I-2025 Indonesia mengekspor minyak kelapa sawit sebanyak 12,4 juta ton senilai US$13,53 miliar. Dalam periode itu, China menjadi negara tujuan ekspor utama, menyerap sekitar 1,74 juta ton atau sekitar 14% dari total ekspor nasional.
Namun dalam periode penuh 2024, volume ekspor sawit Indonesia ke China mengalami penurunan signifikan menjadi 4,48 juta ton, dibandingkan 7,73 juta ton pada 2023.
Penurunan ini menegaskan pentingnya strategi baru: diversifikasi pasar, dorongan hilirisasi, serta peningkatan praktik keberlanjutan agar Indonesia tetap kompetitif di pasar China.
Pasar sawit Indonesia ke China disinyalir digerogoti oleh negara pesaing, Malaysia. Negara jiran itu gencar melakukan investasi untuk mendukung ekspor, dengan membangun fasilitas pengolahan dan tangki timbun di China.
Konjen RI di Guangxi, Ben Perkasa Drajat menilai menilai forum kebijakan hijau di CAEXPO–CABIS 2025 bermakna sangat strategis. Forum ini menjadi ajang bagi Indonesia untuk meneguhkan posisi sebagai produsen sawit berkelanjutan. Dalam forum ini, dibuka pula peluang joint venture, transfer teknologi, dan kerja sama riset antara Indonesia dan China.
Baca Juga
Peran Kalimantan Selatan
Sementara itu, Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) tahun ini mendapat kehormatan untuk mewakili Indonesia dalam paviliun khusus di CAEXPO-CABIS di China tersebut. Kalsel menampilkan potensi unggulan daerah di sektor perdagangan, investasi, dan kerja sama strategis.
Gubernur Kalimantan Selatan, Muhidin melalui Kepala Dinas Perdagangan Ahmad Bagiawan menyatakan, partisipasi ini bukan hanya kebanggaan, tetapi juga peluang emas memperluas jejaring internasional.
“Kalimantan Selatan memiliki banyak kesamaan dengan Guangxi dari segi sumber daya alam, baik pertanian, perkebunan, maupun pertambangan. Dengan persamaan ini, kami optimis dapat saling belajar dan saling mendukung,” ujarnya.
Kalsel siap membuka peluang joint venture, transfer teknologi, dan kemitraan riset. “Momentum emas ini harus kita manfaatkan untuk memperkuat daya saing, menghadirkan nilai tambah bagi komoditas strategis, dan tentu saja membuka lapangan kerja baru di daerah,” tambahnya.
Baca Juga
Dukung Pertumbuhan Ekonomi, BPDP Gulirkan Program Beasiswa Kelapa Sawit

