Proteksi Seimbang dan Efisiensi Disebut Jadi Jalan Krakatau Steel Jadi Pemain Baja Global
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Indonesia dinilai perlu memiliki kebijakan yang seimbang antara proteksi industri baja nasional dan peningkatan efisiensi produksi. Hal ini ditegaskan oleh Dr. Adiwarman, S.Sos., S.H., M.H., ahli hukum perdagangan dan bisnis sekaligus pengajar di Universitas Indonesia. Menurutnya, proteksi yang berdiri sendiri tanpa perbaikan efisiensi justru dapat menjadi bumerang, sementara efisiensi tanpa dukungan kebijakan akan membuat industri domestik tertekan oleh arus baja impor murah.
“Dengan strategi yang tepat, Krakatau Steel dapat tetap menjadi pemain utama dalam industri baja internasional,” ujarnya dalam pernyataan tertulis yang diterima Sabtu (30/8/2025).
Pandangan tersebut hadir di tengah derasnya arus baja impor murah dari Tiongkok. Produk baja asing kerap menawarkan harga 5–10% lebih rendah dibanding baja domestik, sehingga menggiurkan sebagian pelaku industri. Namun, murah tidak selalu berarti menguntungkan. Seorang kontraktor besar di Jawa menyebut baja impor kadang dianggap “produk banci: murah, tapi kualitas tak teruji.” Fakta di lapangan menunjukkan ada proyek yang tertunda karena baja impor gagal memenuhi standar mutu lokal, sehingga harus diganti. Biaya tambahan akibat penggantian inilah yang sering tidak diperhitungkan sejak awal.
Kondisi demikian justru membuka peluang bagi PT Krakatau Steel (Persero) Tbk untuk mempertegas posisinya. Alih-alih bersaing dengan harga, Krakatau Steel menekankan kepastian kualitas, layanan, dan kepercayaan pelanggan. Dalam proyek jangka panjang, kualitas baja yang stabil dapat menghemat biaya perawatan hingga puluhan miliar rupiah, sebuah nilai yang dipandang sama berharganya dengan efisiensi biaya bagi kontraktor besar.
Dari sisi pemasaran, Krakatau Steel memiliki modal berharga. Selama tiga tahun terakhir, Customer Satisfaction Index (CSI) perusahaan stabil di kategori “puas”, bahkan pada 2023 melonjak ke angka 5,39 yang termasuk “sangat puas”. Skor ini bukan hanya melampaui standar industri, tetapi juga menembus target internal yang ditetapkan pada angka 4,6. Data internal juga menunjukkan bahwa indeks kepuasan pelanggan mencapai 82%, naik dibanding tahun sebelumnya. Meski masih ada catatan perbaikan pada fleksibilitas harga, tren positif ini menegaskan kualitas produk dan layanan Krakatau Steel konsisten menjawab ekspektasi pelanggan.
Konsistensi tersebut diperkuat dengan transformasi peran Krakatau Steel. Perusahaan kini tidak lagi sekadar bertindak sebagai pemasok baja, melainkan sebagai mitra strategis. Program konsultasi teknis, skema pengiriman yang fleksibel, dan layanan purna jual proaktif ditawarkan untuk menghadirkan pengalaman berbeda dibanding sekadar transaksi jual beli.
Isu penguatan industri baja lokal juga menarik perhatian regulator. Saat Kunjungan Kerja Reses ke Krakatau Steel pada 26 Maret 2025, Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Dr. Evita Nursanty, menyampaikan dorongan agar Kementerian Perindustrian berpihak pada pelaku industri baja nasional, baik dari hulu hingga hilir. “Semoga ke depan industri baja nasional turut bertumbuh dan terus memberikan kontribusi positif bagi perekonomian Indonesia,” ucapnya. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa keberpihakan terhadap produk nasional bukan sekadar sentimen, melainkan kebijakan strategis.
Dengan menggunakan baja lokal, Indonesia tidak hanya menghemat devisa, tetapi juga menjaga multiplier effect: menciptakan lapangan kerja, memperkuat rantai pasok domestik, dan menambah daya tahan ekonomi nasional. Dalam konteks global yang ditandai praktik unilateralisme Amerika Serikat, kebijakan proteksi industri nasional adalah langkah logis dan strategis. Namun proteksi saja tidak cukup, perlu dibarengi dengan efisiensi produksi dan penguatan daya saing.
Sebagai bagian dari strategi global, kerja sama dengan negara lain juga harus digalang melalui jalur pemerintah ke pemerintah (G-to-G). Krakatau Steel dapat dilibatkan dalam delegasi untuk menindaklanjuti kesepakatan internasional, sehingga kebijakan domestik dapat berpadu dengan diplomasi perdagangan luar negeri. Inilah langkah menuju kemandirian Krakatau Steel sebagai pelaku industri baja global.
Di sisi lain, aspek branding menjadi faktor penting. Krakatau Steel perlu mengusung narasi nasionalisme bahwa baja bukan sekadar komoditas, melainkan infrastruktur kedaulatan. Setiap jembatan, pelabuhan, hingga smelter nikel yang dibangun dengan baja Krakatau Steel bisa diposisikan sebagai bagian dari cerita besar: “Baja untuk Negeri.” Brand positioning semacam ini menjadi perisai penting dalam menghadapi gempuran produk murah dari luar negeri.
Meski tekanan finansial masih membayangi, tahun 2025 dapat menjadi momentum penting bagi Krakatau Steel. Dengan restrukturisasi finansial yang tengah ditempuh serta peluang masuknya dana murah, perusahaan memiliki ruang lebih besar untuk memperkuat marketing dan branding. Ketika harga bukan lagi narasi tunggal, kualitas dan kepercayaan justru muncul sebagai modal kompetitif yang sulit disaingi baja impor. Krakatau Steel sudah memiliki produk berkualitas, kepuasan pelanggan tinggi, serta dukungan politik yang jelas. Kini tantangannya adalah bagaimana mengemas cerita baja nasional ke pasar dan publik. Murah mungkin menggoda, tetapi dalam bisnis jangka panjang, mutu dan kemandirian selalu menang.

