Potensi PLN Hasilkan Listrik Murah dan Bersih untuk UMKM
JAKARTA, investortrust.id - Usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menjadi salah satu mesin penggerak perekonomian Indonesia. UMKM memberi kontribusi sebesar 53,31% terhadap produk domestik bruto (PDB) pada kuartal-II 2023.
Global Economic Prospect edisi Juni 2023 yang diterbitkan World Bank memperlihatkan peran UMKM yang mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia di tengah perlambatan global. Melihat kemampuan UMKM dalam menyerap tenaga kerja dan membantu pertumbuhan ekonomi, sektor ini terus didorong untuk tumbuh.
Presiden Joko Widodo (Jokowi) menargetkan 30 juta pelaku UMKM pada 2024 masuk ke dalam ekosistem digital. Ini merupakan salah satu strategi pemerintah untuk menguasai pasar lokal dan ekspor.
“Kalau kita lihat memang masih belum besar ekspor UMKM, baru 15,7% UMKM kita yang masuk ke pasar ekspor, masih di bawah negara-negara tetangga. Singapura itu 41%, Thailand 29%, ini yang menjadi pekerjaan besar kita,” kata Jokowi saat menghadiri UMKM Expor(t) Brilianpreneur, di Jakarta, Kamis (7/12/2023).
Jokowi menegaskan, untuk meningkatkan peluang ekspor, UMKM perlu memahami desain produk. Urusan kemasan perlu menjadi perhatian UMKM.
“Setiap tahun harus selalu diperbaiki agar produk-produk kita tetap up to date dan mampu memenuhi selera pasar yang ada,” kata dia.
Meski demikian, tantangan kebijakan ekonomi global ke depan juga perlu menjadi perhatian. Menurut Jokowi, saat menghadiri Rakornas Investasi 2023, akan sangat sulit bagi produk-produk tak ramah lingkungan untuk diterima di banyak negara. “Untuk itu kita menyiapkan industri yang ramah lingkungan,” ujar Jokowi.
Jokowi menyebut, saat ini semua negara sedang mengejar blue economy dan green economy. “Banyak yang mengejar ini, geotermal, solar panel, untuk power plant, hydropower, merupakan investasi ke depan yang menjanjikan,” ucap dia.
Langkah pemerintah Indonesia untuk menghasilkan energi bersih perlahan tapi pasti mulai diwujudkan. Sesuai dengan target Net Zero Emission (NZE) pada 2060, Indonesia mulai mencicil penyediaan energi listrik tanpa emisi.
Pada November 2023, PT PLN (Persero) mendukung pemerintah untuk melakukan transisi energi dengan meresmikan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Terapung Cirata. Pembangkit dengan panel surya terbesar se-Asia Tenggara ini mampu menghasilkan listrik berkapasitas 192 MWp.
PLTS Terapung Cirata, yang dikerjakan bersama perusahaan pengembang EBT asal UEA, Masdar, dapat memberdayakan pelaku UMKM. “Peresmian ini menjadi bukti bahwa transisi energi tidak hanya sekadar wacana, tetapi telah menjadi wujud nyata bahwa PLN serius dan all out menjalankan arahan Bapak Presiden Joko Widodo dalam menghadirkan energi bersih di Indonesia,” kata Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo.
Panel Surya Terangi Usaha
Kepala Center of Digital Economy and SMEs, Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Eisha Maghfiruha Rachbini mengatakan, upaya digitalisasi UMKM terus tumbuh karena potensi nilai ekonominya yang besar. Diperkirakan nilai ekonomi digital Indonesia pada 2023 tumbuh 8% dari tahun sebelumnya atau diproyeksikan mencapai US$ 82 miliar.
Menurutnya, UMKM perlu memiliki daya saing sehingga bisa mendapatkan pembiayaan dari perbankan. Salah satu cara untuk meningkatkan daya saing tersebut yaitu meningkatkan kapasitas dan kualitas produksi.
Dua kemampuan inilah yang menurut Eisha belum dimiliki UMKM. Sebab, UMKM di sektor perdagangan masih mendominasi dengan angka penerima kredit sebesar 48,78%.
“Ini karena yang paling menguntungkan di sektor perdagangan. Dengan jual-beli, UMKM dapat margin, barangnya cepat laku, sedangkan di pertanian dan industri pengolahan masih kurang,” ujar Eisha, Kamis (28/12/2023).
Untuk meningkatkan kemampuan UMKM di sektor pembiayaan dan digital, Eisha menyarankan agar ketimpangan digitalisasi UMKM berupa akses infrastruktur dan konektivitas digital dapat dibuat merata di seluruh Indonesia. Selain akses, UMKM perlu mendapat literasi digital sehingga meningkatkan keterampilan dan pengetahuan bagi pelaku UMKM.
Bagi PLN, langkah mendukung listrik ramah lingkungan UMKM penting untuk diapresiasi seluruh pihak. Upaya PLN untuk mengembangkan pemberdayaan UMKM melalui teknologi energi baru dan terbarukan (EBT) juga dilakukan di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Salah satunya yaitu PLTS Temajuk. Selain mendukung 786 rumah warga, PLTS ini juga menunjang aktivitas warga, sekaligus mendukung pelaku UMKM mengembangkan usahanya.
Penelitian Mingbo Zheng dan Chun Yee Wong berjudul The Impact of Digital Economy on Renewable Energy Development in China menjadi gambaran bagaimana energi bersih menyokong geliat UMKM menuju digitalisasi.
“Secara teori, ekonomi digital akan memengaruhi pengembangan energi terbarukan. Pertama, ekonomi digital menyediakan energi dalam pembangunan platform internet,” tulis mereka.
Penelitian terhadap 31 provinsi di China memperlihatkan terjadi hubungan positif antara ekonomi digital dan pembangkit energi terbarukan. Dalam konteks di China, listrik yang dihasilkan dari pembangkit air memiliki potensi yang kuat ketimbang energi angin dan energi surya.
Contoh bagaimana panel surya mampu menggerakkan ekonomi digital juga telah dilakukan India. Sebesar 40% kapasitas listrik yang terpasang di India berasal dari sumber energi nonfosil.
Laporan Kementerian Energi Baru dan Terbarukan India menyebut penerapan tenaga surya telah memberikan dampak positif terhadap kehidupan jutaan orang di India. “Memenuhi kebutuhan mereka akan memasak, penerangan, dan kebutuhan energi lainnya dengan cara yang ramah lingkungan,” tulis kementerian tersebut.
Sebagai komponen paling penting dan menguras ongkos, listrik telah menjadi bagian tak terhindarkan bagi UMKM. Untuk itu, perlu kolaborasi lintas pemangku kepentingan untuk terus menjaga ketersediaan listrik bagi para pelaku UMKM.
Salah satu kolaborasi yang bisa dilakukan yaitu menggandeng dunia akademik. Penelitian yang dilakukan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Ponorogo dan Universitas Diponegoro dapat menjadi contoh pintu masuknya.
Tiga mahasiswa Universitas Muhammadiyah Ponorogo bernama Moh Muhsin, Didik Riyanto, dan Jawwad Shulton Habiby, meneliti pemanfaatan PLTS untuk membantu UMKM penghasil keripik sale pisang di Desa Duri. Penelitian yang menjadi bagian dari pengabdian masyarakat menyebut PLTS yang terpasang dimanfaatkan untuk menghidupkan mesin peniris dan mesin pres. PLTS dapat menghemat pengeluaran listrik pelaku UMKM hingga Rp 43.320.
Sementara itu, tiga mahasiswa Universitas Diponegoro, Khilmi Nafadinanto Irfani, Jawa Windarta, dan Susatyo Handoko menyebut PLTS dapat dimanfaatkan kedai kopi kekinian untuk mengembangkan usahanya. Tim ini merancang panel surya berkapasitas 683,5 Wp, inverter 805 watt, dan kapasitas baterai 158 Ah, serta solar charge controller 25,5 A untuk ditempatkan di atap food truck UMKM Angka Coffee.
“Fleksibilitas PLTS yang dapat digunakan hingga skala kecil ini diharapkan mampu untuk mensuplai kebutuhan listrik usaha UMKM,” tulis peneliti.
Laporan Statistik PLN 2022 menyebut rata-rata biaya PLTS di Indonesia yaitu Rp 1,03 juta per kWh. Biaya tersebut telah menurun 91% dibanding 2020.
Dengan terus menurunnya nilai investasi ini, sangat memungkinkan para UMKM bisa menghasilkan produk berkualitas dan ramah lingkungan sesuai yang diharapkan RI 1.
Untuk itu, berkaca pada kasus serupa di India, penggunaan panel surya sebagai sumber energi UMKM yang penuh tantangan harus diselesaikan dengan kepala dingin oleh para pelaku industrinya.
Selain kolaborasi, kepastian regulasi yang saling menguntungkan perlu dipertegas. PLN dan pemerintah juga bisa berbagi ruang untuk memberikan insentif bagi UMKM yang ingin berinvestasi dalam penyediaan listrik menggunakan PLTS.***

