Harga Emas Naik Tipis, Semua Mata Tertuju ke The Fed dan PCE
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Harga emas bergerak naik tipis pada Senin (25/8/2025) karena pasar menanti rilis data inflasi pengeluaran konsumsi pribadi (personal consumption expenditures/PCE) Amerika Serikat (AS) yang dipandang penting untuk menentukan arah kebijakan Federal Reserve (The Fed). Kenaikan dolar AS membatasi penguatan emas, meski tren jangka menengah masih dipandang positif oleh analis.
Harga emas naik tipis 0,1% menjadi US$ 3.373,49 (Rp 55,1 juta) per ons setelah pada Jumat (22/8/2025) lalu menyentuh level tertinggi sejak 11 Agustus. Sementara itu, kontrak emas berjangka AS pengiriman Desember stagnan di US$ 3.418,60 per ons.
Dolar AS menguat 0,4% terhadap sejumlah mata uang utama, sehingga membuat emas batangan yang dihargakan dalam dolar menjadi lebih mahal bagi pembeli asing. Kondisi ini menahan laju kenaikan harga emas.
Baca Juga
Analis pasar menilai investor tengah mencerna pernyataan Ketua Federal Reserve Jerome Powell pada pekan lalu yang mengisyaratkan kemungkinan penurunan suku bunga pada pertemuan September. Powell menekankan bahwa risiko pelemahan pasar tenaga kerja semakin besar, meski inflasi tetap menjadi perhatian utama.
“Pasar sedang mencerna komentar Powell dari hari Jumat, sambil menunggu masukan baru yang bisa memberi sinyal lebih jelas mengenai peluang pemangkasan suku bunga bulan depan,” ujar Wakil Presiden dan ahli strategi logam senior di Zaner Metals, Peter Grant dikutip CNBC.
Menurutnya, periode lesu musim panas bagi emas kemungkinan segera berakhir dan tren kenaikan bisa kembali menguat dalam beberapa minggu mendatang.
Data PCE jadi katalis
Pasar kini menantikan rilis data inflasi PCE AS pada Jumat (29/8/2025) untuk menilai arah kebijakan moneter. Indikator ini merupakan ukuran inflasi favorit The Fed karena mencerminkan pergerakan harga barang dan jasa konsumsi secara lebih luas.
Ekspektasi pasar menunjukkan inflasi inti PCE diperkirakan naik ke 2,9% pada Juli, tertinggi sejak akhir 2023. Jika realisasi sesuai perkiraan, peluang penurunan suku bunga pada September semakin kuat. Berdasarkan CME FedWatch Tool, probabilitas pemangkasan suku bunga 25 basis poin bulan depan telah mencapai lebih dari 86%.
Baca Juga
Trump Sasar Tarif Impor Furnitur, Industri Mebel Indonesia Cemas
Emas biasanya diuntungkan ketika suku bunga turun, karena aset ini tidak memberikan imbal hasil tetap. Dalam kondisi suku bunga rendah, biaya peluang memegang emas menjadi lebih kecil sehingga permintaan meningkat.
Selain emas, harga perak juga bergerak stabil di US$ 38,81 per ons. Logam mulia ini sempat mencapai puncak hampir 1 bulan pada Jumat lalu, mengikuti pergerakan emas.

