Trump Sasar Tarif Impor Furnitur, Industri Mebel Indonesia Cemas
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Para pelaku industri mebel di Indonesia mengaku cemas terhadap instruksi Presiden AS, Donald Trump kepada jajarannya untuk menginvestigasi dan menaikkan tarif impor furnitur yang masuk ke AS.
Penerapan tarif impor tambahan furnitur yang direncanakan Presiden Trump bertujuan menghidupkan kembali sektor furnitur di Negeri Paman Sam, khususnya di kawasan North Carolina dan Michigan.
Baca Juga
Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) menaruh perhatian besar terhadap isu ini, mengingat AS merupakan pasar utama furnitur RI, dengan nilai ekspor US$ 500- 600 juta hingga semester I-2025.
"Tarif tambahan ini juga sangat berisiko bagi pekerja sektor furnitur dan kerajinan sebagai sektor pendukung yang mencapai lebih dari 3 juta pekerja. Jadi, harus ada solusi melalui negosiasi," ucap Ketua Umum HIMKI, Abdul Sobur kepada investortrust.id, Minggu (24/8/2025).
Selain itu, menurut Sobur, tarif impor tambahan dikhawatirkan membuat harga produk furnitur asal Indonesia di AS meningkat, sehingga tidak kompetitif dibanding produk serupa dari negara-negara lain. Alhasil, daya saing furnitur RI akan terhambat.
"Harga produk (furnitur Indonesia) di pasar AS bisa naik 20–35 %, misalnya kursi kayu seharga US$ 100 bisa naik menjadi US$ 120–135 per unit," beber Sobur.
Baca Juga
Ekspor Mebel RI Berpotensi Anjlok Jika AS Pasang Tarif Impor, HIMKI: Pemerintah Harus Gerak Cepat
Pemerintah AS akan melakukan investigasi atau penyelidikan selama kurang lebih 50 hari untuk menerapkan tarif impor secara besar-besaran terhadap furnitur yang masuk ke negaranya.
Usai rencana itu diumumkan pada 22 Agustus lalu, dampaknya langsung terlihat di bursa saham AS. Saham perusahaan furnitur yang mengandalkan impor, seperti Wayfair, Williams‑Sonoma, dan RH melemah 3–7 %. Sebaliknya, produsen domestik, seperti La‑Z‑Boy dan Ethan Allen, justru naik 3–5%.

