Pocky Glico kian Ekspansif, Indonesia Jadi Basis Produksi Asia Pasifik
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Ezaki Glico, produsen makanan ringan asal Jepang yang terkenal dengan merek Pocky, semakin serius memperluas investasinya di Indonesia. Perusahaan yang berdiri sejak 1922 itu melihat Indonesia sebagai pasar strategis di Asia Pasifik, seiring besarnya populasi produktif dan tren konsumsi makanan ringan yang terus tumbuh.
Glico Indonesia berdiri sejak 1 April 2014 dengan fokus awal pada distribusi produk impor dari Jepang dan Thailand. Namun sejak 2023, perusahaan mulai memproduksi secara lokal melalui pabrik di Karawang, Jawa Barat.
Baca Juga
Mau Mukbang Snack Hasil Produsen Makanan Ringan Ini? Datang ke PRJ 2025
"Pabrik tersebut ditujukan untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik sekaligus ekspor ke ASEAN dan Amerika," kata Presiden Direktur PT Glico Manufacturing Indonesia Bhakti Priyana dalam wawancara eksklusif dengan sejumlah media, termasuk Investortrust.id di kantornya, Jakarta, Kamis (21/8/2025).
Bhakti menegaskan bahwa Indonesia bukan hanya pasar, tetapi juga pusat produksi penting. “Indonesia dilihat sebagai engine of growth untuk Asia Pasifik karena populasinya besar dan konsumsi snack per kapitanya masih bisa berkembang pesat,” ujar Bhakti yang juga menjabat direktur PT Glico Indonesia.
Meski baru beroperasi 11 tahun, Glico Indonesia mencatat pertumbuhan penjualan rata-rata (compound annual growth rate/CAGR) 15–20% sejak 2014, meski sempat tertahan saat pandemi Covid-19. Perusahaan kini mengandalkan tiga pilar produk, yakni Pocky sebagai andalan, Pejoy, dan Pretz.
Dia mengatakan, awalnya distribusi Glico sangat bergantung pada modern trade (ritel modern) hingga 90%. Namun sejak 2020, perusahaan mulai masuk ke pasar tradisional dengan produk berukuran kecil dan kemasan sachet yang lebih terjangkau. "Saat ini, kontribusi penjualan berasal dari modern trade sekitar 70%, tradisional trade 25%, dan e-commerce kurang dari 5%," kata Bhakti.
Baca Juga
Adventaro Jadi ‘Gimmick’ Perusahaan Makanan Ringan Ini Perluas Pangsa
Pabrik Karawang jadi basis ekspor
Pabrik di Karawang memiliki tiga lini produksi. Salah satunya khusus memproduksi Pocky premium yang hanya dibuat di Indonesia untuk kebutuhan ASEAN. Saat ini, 70% hasil produksi dipasarkan di dalam negeri, sementara 30% diekspor ke Amerika Serikat, Kanada, dan beberapa negara Asia Tenggara.
Glico Indonesia juga menegaskan komitmen terhadap standar global dengan tetap menyesuaikan cita rasa lokal. Sebelum meluncurkan produk baru, perusahaan selalu melakukan riset konsumen untuk memastikan penerimaan pasar.
Selain ekspansi produksi, Glico berinvestasi pada aspek keberlanjutan. Pabrik di Karawang dilengkapi panel surya dan menerapkan standar sertifikasi internasional, termasuk Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) untuk bahan baku minyak sawit berkelanjutan dan Forest Stewardship Council (FSC) untuk penggunaan kertas ramah lingkungan.
“Kami punya target menurunkan emisi CO2 hingga nol persen pada 2050, sejalan dengan komitmen global Glico Jepang,” ujar Bhakti.
Prospek 2025 dan bonus demografi
Meski konsumsi domestik sempat melambat pada 2024 akibat tekanan inflasi dan ketidakpastian global, Bhakti mengatakan, Glico tetap optimistis. Bonus demografi Indonesia hingga 2040 menjadi peluang besar bagi produk camilan yang menyasar Gen Z dan generasi muda produktif.
Baca Juga
Investasi Industri Makanan Minuman Capai Rp 22,63 Triliun hingga Kuartal I-2025
“Pasar snack Indonesia masih bertumbuh, walaupun moderat. Namun konsumen akan beradaptasi, dan itu jadi peluang jangka panjang,” kata dia.
Dengan strategi fokus pada Pocky sebagai brand utama, Glico berencana menambah kategori baru di Indonesia pada 2026. Perusahaan menargetkan pertumbuhan berkelanjutan dengan memanfaatkan kombinasi populasi besar, selera konsumen muda, dan tren makanan sehat.

