CEO Investortrust Sebut Transformasi Media Harus Dimulai dari 'Mindset'
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - CEO PT Investortrust Indonesia Sejahtera, Primus Dorimulu mengungkapkan pentingnya transformasi media-media mainstream, utamanya di era yang serba digital seperti sekarang. Selain itu, transformasi juga harus diiringi peningkatan kualitas diri dan pola pikir (mindset).
“Jadi rupanya transformasi itu change seluruhnya, dan kita tak boleh menoleh ke belakang. Jadi perubahan tidak hanya teknologi, tapi yang paling penting mindset dari kita semua agar menyesuaikan teknologi,” kata Primus dalam acara "DSRC Dialog Series" di Jakarta, Rabu (13/8/2025).
Dia menegaskan, transformasi di industri media menjadi hal wajib. Apalagi, saat ini dunia sudah memasuki era kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Menurutnya, media harus bisa memaksimalkan AI untuk menunjang pekerjaan mereka.
Kendati demikian, Primus menyampaikan bahwa bagaimanapun manusia tetap memiliki peran penting yang tidak bisa digantikan AI. Pada akhirnya, AI hanyalah alat bantu untuk memaksimalkan kinerja manusia.
“Dalam buku 20 Lessons for 21st Century karya Yuval Noah Harari, dia menjelaskan sepandai-pandainya AI, tiba-tiba dia membantu kita, kita mendidik karyawan kita agar bisa tetap relevan, tetap bermanfaat, tetap dipakai,” sebut Primus.
Primus tidak memungkiri bahwa melakukan transformasi ini bukan perkara mudah. Maka dari itu, ini harus dimulai dengan membiasakan diri. Dari kebiasaan inilah lambat laun akan membentuk kultur budaya kerja yang baru.
Baca Juga
Media Konvensional Terus Bergerak ke Ekosistem Multiplatform
Dia menjabarkan ada empat hal yang perlu ditanamkan dan dimiliki manusia pada era sekarang, yaitu berpikir kritis (critical thinking), komunikasi (communication), kreativitas (creativity), dan kolaborasi (collaboration).
“Critical thinking itu yang nggak bisa AI gantikan. Communication penting. Kreativitas itu manusia, dan terakhir adalah collaboration. Kita bisa mengalahkan AI lebih hebat karena kita berkolaborasi,” ujar Primus.
Lebih lanjut, Primus memaparkan bahwa berdasarkan survei, saat ini rata-rata IQ masyarakat Indonesia hanya 78. Menurutnya, ini terjadi karena konten-konten yang dikonsumsi masyarakat tidak berbobot.
Maka dari itu, ini menjadi peran penting bagi media untuk menyajikan konten-konten bermanfaat dan meliterasi masyarakat. Media wajib menyampaikan sesuatu yang benar, bukan hoax atau berita palsu.
Baca Juga
Menkomdigi Ungkap Peran Penting Media untuk Kawal Program Sekolah Rakyat
“Kita lihat dari percakapan di medsos (media sosial). Lihatlah konten-konten yang diproduks, banyak sampah. Bahkan mereka yang sudah level tinggi, yang harus meliterasi masyarakat, itu memberikan pandangan hate speech, menghasut segala macam, merusak bangsa. Banyak konten-konten yang tak bagus,” ungkap dia.
Bukan hanya itu, pemerintah dinilai perlu menjadi komando agar masyarakat mendapatkan informasi benar. Sebab, tanpa adanya dukungan pemerintah, akan sulit mencerdaskan kehidupan bangsa.
“Nomor satu benar dulu. Nah ini kalau pemerintah sendiri lebih banyak mendukung sosmed (sosial media) dengan beriklan di sana, tidak mendukung media mainstream, ya susah. Jadi menurut saya, bangsa yang sehat secara pikiran dia punya pemikirannya sehat, dia punya jiwanya sehat, psikolognya sehat, dia harus mengonsumsi berita yang sehat, berita benar,” tegas Primus.

