Kisah Gas Jambaran Tiung Biru, dari Pandemi ke Puncak Produksi
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - PT Pertamina Hulu Energi (PHE), melalui anak usahanya PT Pertamina EP Cepu (PEPC) berhasil mencatatkan produksi full capacity di Lapangan Gas Jambaran-Tiung Biru (JTB) pada 2024 lalu. Proyek JTB ini menjadi salah satu proyek gas terbesar di Indonesia.
Direktur Manajemen Risiko PHE Whisnu Bahriansyah menyampaikan, proyek Jambaran Tiung Biru ini dimulai sekitar 2017 dengan pengeboran sumur gas pertamanya pada 2019. Sedangkan pada 2024, proyek tersebut sudah mencapai full production.
Baca Juga
PHE ONWJ Lanjutkan Proyek Penggantian dan Peremajaan Jalur Pipa Penyalur Bawah Laut
Dia mengungkapkan, tantangan terbesar pengembangan proyek Jambaran Tiung Biru adalah waktu atau jadwal (schedule) dan biaya atau (cost of run). Apalagi selama proses pengembangan tersebut sempat terjadi pandemi Covid-19.
“Terkait waktu proyek Jambaran Tiung Biru, kami memang terlambat karena waktu itu ada Covid-19 dan kalau dari biaya alhamdulillah cost performance-nya bagus. Kami secara total itu cost of run-nya hanya 4,6% dari 2019 sampai 2024,” kata Whisnu dalam acara "DSRC Dialog Series" di Jakarta, Rabu (13/8/2025).
Whisnu menerangkan, full production proyek Jambaran Tiung Biru ini sebetulnya bisa saja dicapai lebih cepat sebelum 2024. Namun, yang menjadi persoalan adalah konsumennya ketika itu masih belum siap.
“Kalau gas itu begitu diproduksikan langsung dikonsumsi itu akan lebih aman. Menyimpan gas di dalam tanah dibandingkan kalau minyak kan bisa disimpan di tangki begitu,” jelas dia.
Investasi Pertamina EP untuk pengembangan JTB sebesar US$ 1,547 miliar (Rp 24 triliun). Pada awal produksinya, gas mengalir sebesar 70 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD), yang secara bertahap meningkat dan beberapa kali mencapai produksi gas sebesar 193 MMSCFD.
Baca Juga
Harga Minyak Turun Jelang Pertemuan Trump–Putin dan Rilis Data Inflasi AS
“Di waktu antara 2019 sampai 2024, kebetulan kita bisa menerapkan teknologi yang lebih baik sehingga bahan gas yang dibutuhkan untuk bahan bakar bisa menjadi lebih kecil sehingga ada gas ekstra yang bisa dijual,” beber Whisnu.
Saat ini, lapangan Jambaran Tiung Biru adalah produksi gas terbesar ketiga di Indonesia. Lapangan gas itu memenuhi kebutuhan gas Pantai Utara Jawa, dari Jawa Timur, Jawa Tengah, hingga nantinya ke Jawa Barat.

