Kisah Inspiratif Atalanta Bangkit Dari Pandemi Terparah di Eropa Menuju Final Liga Europa
BERGAMO, investortrust.id – Keberhasilan Atalanta menembus final Liga Europa layak dijadikan inspirasi. Empat tahun setelah menderita paling parah di Eropa akibat pandemi Covid-19, La Dea kini tinggal selangkah mengapai piala di level Benua Biru.
Sejarah mencatat, ketika pandemi melanda dunia, Bergamo adalah kota yang terdampak paling parah di Eropa. Virus pertama kali ditemukan di kota itu. Jumlah korban terbanyak juga dari Bergamo. Kota itu lumpuh total, nyaris mati, seperti menjadi kota zombie.
Ketika itu, dunia juga dikejutkan dengan foto-foto dan video-video viral di media sosial yang menunjukkan truk militer Italia antre sangat panjang berkilo-kilo meter menuju tempat pemakaman.
Baca Juga
Ketua Umum PSSI Erick Thohir Ucapkan Terima Kasih Atas Perjuangan Timnas U-23 Indonesia
Namun, setelah kondisi normal, Bergamo menjadi tempat yang pulih paling cepat. Di sepak bola, klub kebanggaan warga kota, Atalanta, menjelma menjadi salah satu kekuatan baru di Italia. Mereka berubah dari klub medioker menjadi langganan kompetisi Eropa.
Atalanta sempat mencapai perempat final Liga Champions 2019/2020, babak 16 besar Liga Champions 2020/2021, dan perempat final Liga Europa 2021/2022. Sekarang, Atalanta akan menantang Bayer Leverkusen pada final Liga Europa di Dublin, Kamis (23/5/2024) dini hari WIB.
Pelatih Atalanta Gian Piero Gasperini menyebut pencapaian La Dea ke final Liga Europa mengingatkan orang bahwa sepak bola adalah “meritokrasi” dan ada “harapan” di luar Liga Super Eropa. “Saya sudah katakan kemarin, ketika seluruh kota menyambut kami, para pemain merasakan energi dan emosi itu. Itu adalah pertandingan spesial dan mereka memainkannya dengan cara terbaik,” kata Gian Piero Gasperini, dilansir Football Italia.
“Saya pikir final akan menjadi peristiwa bersejarah dan bagi klub seperti kami. Ini luar biasa. Ini menjadi pertanda baik bagi semua orang. Statistik nampaknya penting, dirasa perlu untuk mendirikan Liga Super Eropa. Tapi, keteladanan yang diberikan Atalanta bisa memberi harapan,” lanjut Gian Piero Gasperini.
“Sepak bola adalah sistem meritokrasi. Dan, itulah yang membuat permainan ini indah, bukan karena anda mewarisi hak genetik melalui garis keturunan anda,” pungkas Gian Piero Gasperini.
Baca Juga
Penalti Eks Pemain Barcelona Gagalkan Tiket Olimpiade Timnas U-23 Indonesia

