Pemerintah Sebut Mobil Hybrid Akan Jadi Produk Unggulan Ekspor RI
JAKARTA, investortrust.id – Pasar global mobil hybrid atau hibrida diyakini berpotensi terus tumbuh, setidaknya hingga 10 tahun ke depan, seiring makin tingginya kesadaran masyarakat global dalam mendukung pengurangan emisi karbon.
Deputi Bidang Koordinasi Perniagaan dan Industri Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia Dr. Ir. Ali Murtopo Simbolon, S.T, S.Si, M.M, M.T, IPU menyebut, potensi pertumbuhan pasar modal hibrida global terutama dari Amerika Utara, Eropa, dan Asia-Pasifik.
“Tahun ini nilai pasar kendaraan hibrida global sebesar US$ 156 miliar, berpotensi meningkat 10 kali lipat menjadi US$ 1.301 miliar pada tahun 2032. Artinya pertumbuhannya sekitar 30% per tahun, ini potensi besar yang harus kita optimalkan untuk mendorong ekspor,’’ papar Ali Murtopo Simbolon, saat membuka seminar bertema “Potensi Besar dan Kebutuhan Insentif Mobil Hibrida” yang digelar Investortrust.id, di Thamrin Nine Ballroom, Jakarta, Rabu (29/11/2023).
Baca Juga
Mobil Hybrid Topang Penguatan Market Cap Astra International (ASII)
Melihat potensi tersebut, pemerintah berharap mobil hibrida bisa jadi produk unggulan ekspor Indonesia di masa datang dengan manyasar potensi pasar global di Amerika Utara, Eropa maupun Asia Pasifik.
Saat ini kata Ali, kontribusi ekspor mobil hibrid RI baru 5% dari total ekspor mobil nasional yang mencapai 425.647 unit per Oktober 2023 tumbuh 1,78% year on year (yoy). Ali memperkirakan hingga akhir tahun kontribusi ekpor mobil hibrida bisa mencapai 6%, dan terus meningkat di masa datang.
Baca Juga
Adapun di dalam negeri, pada periode tersebut penjualan mobil listrik hibrida terus meningkat. Tercatat hampir 40 ribu unit per Oktober 2023.
Meski demikian, kata Ali, mobil listrik hibrida masih menghadapi tantangan secara regulasi. Dia mengakui posisi mobil listrik hibrida masih disamakan dengan mobil konvensional.
Padahal, secara fungsi, Ali mengakui mobil listrik hibrida dapat mengurangi emisi karena menghemat penggunaan Bahan Bakar Minyak (BBM) hingga 50%. “Berbeda dengan kendaraan EV yang sudah diberikan banyak insentif, mobil hibrida perlakuannya masih sama dengan kendaraan komersial lainnya,’’ tutur Ali.
Untuk pengembangan pasar mobil hibrida, Ali berharap pelaku industri memberikan masukan ke pemerintah terkait kebijakan yang perlu dilakukan, termasuk dari seminar yang digelar Investortrust.id hari ini.
“Kami menunggu masukan dari forum-forum seperti ini agar menjadi pembahasan lebih lanjut,” kata dia. (CR-7)

