Industri Kosmetik Diproyeksi Tumbuh 5,26% Per Tahun
JAKARTA, Investortrust.id - Pasar kecantikan seperti perawatan kulit, wewangian, tata rias, dan perawatan rambut menghasilkan pendapatan sekitar US$ 430 miliar secara global pada tahun 2022. Sejak melewati puncak pandemi Covid-19, pasar kecantikan diperkirakan akan mencapai nilai sekitar US$ 580 miliar pada 2027, dengan proyeksi pertumbuhan diperkirakan 6% per tahun.
“Sementara itu di Indonesia, melansir laporan Statista pada 2023 menunjukkan bahwa pendapatan di pasar kosmetik sebesar US$ 1,85 miliar pada 2023 dan diperkirakan akan tumbuh setiap tahun sebesar 5,26%,” kata Perhimpunan Perusahaan dan Asosiasi Kosmetika (PPAK) Solihin Sofian dilansir laman Kemenperin, Rabu (6/2023).
Menurut Solihin, etalase toko dibutuhkan untuk terus meningkatkan pasar kosmetik di dalam negeri. Etalase menjadi kebutuhan penting agar para pemakai kosmetik dapat melihat produk secara langsung.
“Menggunakan toko sebagai etalase untuk produk kosmetik adalah strategi penting dalam bisnis. Etalase yang menarik dan efektif dapat membantu menarik perhatian pelanggan, membangun citra merek yang kuat, dan meningkatkan penjualan produk,” kata Solihin.
Pada kesempatan yang sama, Sekjen Persatuan Perusahaan Kosmetika Indonesia (Perkosmi) Yanne Sukmadewi menjelaskan tentang daya saing kosmetika Indonesia dan potensinya yang besar.
Menurut Yanne, kosmetik tematik di Indonesia memperkaya khasanah dunia kosmetika dan dapat menjadi keunikan tersendiri. Selain itu, kosmetik halal di Indonesia memberi nilai lebih sehingga dapatmengisi pasar mancanegara yang memiliki penduduk muslim. Di samping itu, gaya hidup masyarakat masih terus berkembang. Kebutuhan untuk tampil cantik dan menarik juga semakin tinggi. Klinik kecantikan tumbuh tidak hanya di kota-kota besar.
Selain gaya hidup, cara berdagang kosmetik juga berkembang mengikuti perubahan zaman. Salah satu indikasinya adalah peningkatan penjualan kosmetik secara daring.
“Pemerintah dan pemangku kepentingan industri kosmetik secara berkesinambungan perlu mendukung sekaligus mengawasi sektor ini. Dibutuhkan juga peraturan yang sejalan dengan zaman dan upaya menjaga daya saing industri lokal agar bisa kompetitif di pasar,” kata Yanne.
Ketua Umum Aprindo sekaligus ketua umum asosiasi ritel di asia pasifik atau Federation Asia Pacific Retail Association (FAPRA), Roy Nicholas Mandey, mengatakan jaringan yang dibangun Aprindo bisa dimanfaatkan produk lokal Indonesia ke pasar global.
“Kita bisa memanfaatkan networking FAPRA untuk memasarkan produk-produk unggulan ke pasar global. FAPRA memiliki posisi penting untuk memengaruhi kebijakan,sehingga produk lokal bisa masuk ke pasar global melalui kerja sama business to business (B-to-B). Kegiatan B-to-B ini perlu dukungan fasilitasi pemerintah Indonesia, khususnya Kemendag, agar produk kosmetik lokal bisa masuk ke jaringan FAPRA. Aprindo memimpin FAPRA hingga 2025, sehingga masih ada waktu dua tahun lagi untuk berkolaborasi,” ungkap Roy.

