Mesin Baru Ekonomi, Transformasi Energi Bisa Tarik Investasi Rp 1.682 Triliun
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Anggota Komisi XII DPR dari Fraksi Partai Golkar Yulisman mengatakan, sektor energi diproyeksikan menjadi salah satu motor penggerak atau mesin baru ekonomi Indonesia, utamanya dalam mendorong pertumbuhan ekonomi 8%.
Pengembangan energi bersih dan hilirisasi dapat menciptakan 6,2 juta lapangan kerja baru dan menarik investasi hingga Rp 1.682 triliun dalam 10 tahun ke depan.
Menurut dia, transformasi energi yang sedang digenjot pemerintah bukan hanya untuk menurunkan emisi karbon dan beralih ke energi bersih, tetapi dapat menciptakan lapangan kerja baru dan meningkatkan investasi.
“Transformasi energi bukan hanya pengurangan emisi, tetapi peluang besar untuk menciptakan nilai tambah dan memperluas lapangan kerja,” kata Yulisman di Jakarta, Senin (28/7/2025).
Baca Juga
Kementerian ESDM Akan Bangun UPT Energi Terbarukan di NTT karena Jadi Lumbung EBT
Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), pengembangan energi bersih dan hilirisasi dapat menciptakan 6,2 juta lapangan kerja baru dan menarik investasi hingga Rp 1.682 triliun dalam 10 tahun ke depan.
Yulisman menegaskan, Komisi XII DPR mendukung kebijakan percepatan investasi energi melalui regulasi yang pro-bisnis, insentif fiskal tepat, dan pengawasan berbasis transparansi. Menurutnya, tren global menuju energi hijau adalah momentum emas bagi Indonesia untuk menarik minat investor internasional.
“Dengan potensi energi terbarukan yang mencapai 3.600 gigawatt (GW), kita harus memastikan roadmap ini berjalan tepat waktu agar Indonesia menjadi pemain utama di Asia Tenggara,” ujarnya.
Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) yang diatur melalui Perpres Nomor 22 Tahun 2017 menetapkan target bauran energi baru terbarukan (EBT) sebesar 23% pada 2025. Selain itu, pemerintah juga menetapkan Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN) untuk mengatur pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan.
Adapun yang terbaru Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) untuk 2025-2034. Sinkronisasi implementasi antara RUEN dan RUKN dinilai krusial agar transisi energi berjalan terukur.
Pemerintah menargetkan pembangunan PLTS sebesar 5,3 GW dan PLTA 10 GW pada 2030 untuk memperkuat ekosistem energi bersih. Langkah ini juga mendukung pengembangan industri baterai kendaraan listrik, yang diproyeksikan menjadi salah satu penopang hilirisasi dan pengurangan impor energi.
Baca Juga
Suplai Energi RI Melonjak 7,3% tetapi Bauran EBT Tertinggal, Bisakah Capai Target 23% di 2025?
“Jika eksekusi proyek dilakukan tepat waktu, Indonesia tidak hanya memenuhi target EBT, tetapi mengurangi ketergantungan pada energi fosil dan menciptakan dampak ekonomi yang inklusif,” ucap Yulisman.
Yulisman menekankan perlunya insentif fiskal, kepastian hukum, dan penguatan infrastruktur untuk menciptakan iklim investasi yang kompetitif. “Pemerintah harus memastikan roadmap ini jelas dan implementasinya terukur, sehingga manfaat ekonomi dan lapangan kerja segera dirasakan masyarakat,” tegas dia.

