Dirjen SEF: Tarif Resiprokal AS Akan Kerek Pertumbuhan Ekonomi Indonesia ke 5%
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Dirjen Strategi Ekonomi dan Fiskal Kementerian Keuangan (SEF Kemenkeu), Febrio Kacaribu mengungkapkan, tarif resiprokal 19% yang diberlakukan AS terhadap produk ekspor Indonesia mulai 1 Agustus 2025 akan turut mengerek pertumbuhan ekonomi nasional ke kisaran 5% tahun ini.
“Kita melihat peluang pertumbuhan ekonomi akan menuju ke kisaran 5%” ujar Febrio, saat ditemui di kantor Kementerian Koordinator bidang Perekonomian, Jakarta, Senin (21/7/2025).
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), perekonomian Indonesia pada kuartal I-2025 tumbuh 4,87% secara tahunan (year on year/yoy). Dari sisi distribusi, ekspor tumbuh 6,78% (yoy) dengan andil 22,30% terhadap produk domestik bruto (PDB), sebelum dikurangi impor 19,74%.
Baca Juga
Tarif Impor CPO ke AS Dinego Jadi 0%, Pelaku Usaha Optimistis Ekspor Sawit RI Meroket
Adapun konsumsi rumah tangga tumbuh 4,89% (andil 54,53% terhadap distribusi PDB) dan pembentukan modal tetap bruto atau PMTB tumbuh 2,12% (andil 28,03%). Sedangkan komsumsi pemerintah terkontraksi 1,38% (andil 5,88%), konsumsi lembaga non-profit rumah tangga (LNPRT) tumbuh 1,39% (andil 3,07%), dan impor tumbuh 3,96%.
Febrio menjelaskan, pemerintah memiliki sejumlah peluang untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi ke depan. Itu karena keberhasilan pemerintah menegosiasikan sejumlah perjanjian dagang, salah satunya tarif resiprokal yang diberlakukan Presiden AS, Donald Trump.
Semula, AS berencana mengenakan tarif 32% terhadap Indonesia. Namun, setelah pemerintah melakukan negosiasi secara intensif, AS bersedia menurunkan tarif menjadi 19%. Angka itu merupakan yang terendah dibanding tarif resiprokal yang diberlakukan AS terhadap negara-negara kompetitor Indonesia. “Peluang ini akan kita manfaatkan,” Febrio Kacaribu.
Menurut Febrio, Indonesia dapat menggenjot ekspor mesin dan perlengkapan elektronik ke AS. Produk seperti router, pemancar sinyal WiFi, diharapkan dapat terus didorong. Begitu pula tekstil, pakaian jadi, alas kaki, dan furnitur.
Baca Juga
Peneliti INDEF: Keputusan Tarif AS, Diproyeksi Turunkan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
Selain ekspor ke AS, kata Febrio, Indonesia bisa memanfaatkan Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif antara Indonesia dan Uni Eropa atau Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA) yang baru saja digolkan pemerintah.
Febrio Kacaribu menambahkan, IEU-CEPA yang efektif berlaku mulai akhir 2026 atau paling pambat awal 2027 akan turut mengakselerasi pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan.
Salah satu komoditas yang akan didorong untuk masuk ke pasar Eropa, kata Febrio, yaitu minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO). Setelah sukses dengan IEU-CEPA, CPO diharapkan lebih banyak diekspor ke Benua Biru.

