Asahi Glass Co Minta Pemerintah RI Tingkatkan Perlindungan pada Industri Nasional dari Gempuran Impor
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – Perusahaan multinasional asal Jepang, Asahi Glass Co. (AGC), mengaku resah atas maraknya produk kimia impor, terutama produk berbasis PVC, yang membanjiri pasar Indonesia. Kondisi ini dianggap mengancam keberlangsungan industri dalam negeri, termasuk pabrik-pabrik AGC di Indonesia yang telah menjadi basis produksi penting di luar Jepang.
Keresahan itu disampaikan langsung oleh perwakilan AGC dalam pertemuan dengan Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita saat kunjungannya ke Jepang, Jumat (11/7/2025). Pihak AGC pun meminta agar pemerintah Indonesia segera merespons dan mengambil langkah-langkah untuk melindungi industri nasional dari gempuran produk impor yang berpotensi menggerus utilisasi produksi dan investasi lokal.
Menanggapi hal tersebut, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang menegaskan bahwa pemerintah Indonesia terus berupaya memperkuat struktur industri nasional melalui sinergi lintas kementerian dan kebijakan strategis yang komprehensif. Menurutnya, Kementerian Perindustrian tidak bisa bekerja sendiri, sebab sejumlah aspek penting yang mempengaruhi daya saing industri manufaktur nasional berada di luar kewenangannya.
“Kemenperin terus berkoordinasi dan berkolaborasi dengan kementerian lain demi mencapai kebijakan strategis yang selaras dan meningkatkan daya saing industri. Terdapat beberapa kebijakan yang menentukan kemandirian industri manufaktur, di antaranya seperti harga gas untuk industri (HGBT), pengendalian impor, dan pemberian insentif fiskal,” ujar Menperin seperti dikutip Sabtu (12/7/2025).
Menperin mengaku optimistis dengan kebijakan yang harmonis lintas kementerian, industri dalam negeri akan mampu bersaing dan bertahan di tengah tekanan global. Kemenperin juga tengah mendorong transformasi industri bahan kimia agar lebih produktif dan inovatif, dengan tujuan meningkatkan kemandirian serta daya saing sektor tersebut di dalam negeri.
Baca Juga
Dalam pertemuan dengan AGC, Menperin juga membahas isu lingkungan, termasuk komitmen Kemenperin dalam mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK) dan mempercepat transisi industri menuju target Net Zero Emission 2050. Ia meminta agar AGC mempercepat upaya pengurangan emisi karbon di fasilitas produksinya di Indonesia, khususnya di PT Asahimas Chemical dan PT Asahimas Flat Glass yang hingga kini masih mengandalkan batu bara sebagai sumber energi.
“Sumber energi yang digunakan oleh PT Asahimas Chemical dan PT Asahimas Flat Glass perlu dipertimbangkan mengingat tujuan kita untuk mewujudkan industri hijau yang berkelanjutan. Sebagai alternatif, saat ini kami tengah mengkaji penerapan teknologi Carbon Capture and Utilization (CCU),” tegas Menperin.
Teknologi CCU memungkinkan karbon dioksida yang dihasilkan dari proses industri untuk ditangkap, diproses, dan diubah menjadi produk bernilai guna. Ini dinilai lebih ekonomis ketimbang skema Carbon Capture and Storage (CCS). Menperin menambahkan bahwa penerapan teknologi ini bisa menjadi solusi dalam menciptakan ekosistem industri rendah emisi sekaligus tetap menjaga nilai ekonomis.
Untuk mempercepat penerapan CCU, Kemenperin telah menggandeng UWin Resources Regeneration Inc., perusahaan yang telah berpengalaman dalam pengembangan teknologi Carbon Capture and Industrial Emission Reduction (CCIER).
Dengan komitmen yang kuat dari AGC dan dukungan kebijakan pemerintah, diharapkan industri kimia dan manufaktur nasional mampu tumbuh secara berkelanjutan, bersaing di pasar domestik maupun global, serta tetap sejalan dengan target dekarbonisasi nasional.

