Hashim: Pemerintah Indonesia Siapkan Laporan NDC untuk COP30 Brasil
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – Pemerintah Indonesia tengah memfinalisasi dokumen Nationally Determined Contributions (NDC) sebagai bentuk komitmen nasional dalam pengurangan emisi karbon dan penanganan perubahan iklim. Hal ini disampaikan langsung oleh Utusan Khusus Presiden Bidang Perubahan Iklim dan Energi, Hashim Djojohadikusumo, dalam sambutannya pada acara peringatan HUT ke-16 Indonesia Commodity and Derivatives Exchange (ICDX) di Jakarta, Rabu (9/7/2025).
"Beberapa bulan lagi saya akan mewakili presiden dalam COP30 yang akan berlangsung di Brasil. Dalam hal ini kita siapkan apa yang dinamakan NDCs atau National Interim Contributions. NDCs kita, kita siapkan, karena bulan September kita sudah harus rampung, harus selesai,"ujar Hashim.
Hashim menyampaikan bahwa dirinya telah ditunjuk langsung oleh Presiden Prabowo Subianto sebagai utusan khusus karena kedekatan personal dan karena perhatian besar yang ia miliki terhadap isu lingkungan hidup, pelestarian satwa, dan pentingnya menjaga ekosistem yang bersih dan sehat demi keberlangsungan umat manusia. Dalam kapasitas tersebut, ia ditugaskan untuk menyiapkan dokumen NDC yang akan menjadi representasi posisi Indonesia dalam Konferensi Perubahan Iklim PBB (COP30) yang akan digelar di Brasil pada November 2025 mendatang.
Dalam sambutannya, Hashim menjelaskan bahwa penyusunan NDC ini melibatkan kerja intensif lintas kementerian, terutama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), serta Kementerian Perdagangan, termasuk dukungan dari Menko Perekonomian Airlangga Hartarto.
Seperti disampaikan Hashim, target penyelesaian laporan NDC dijadwalkan rampung pada September 2025, sebelum kemudian disampaikan ke Sekretariat UNFCCC sebagai prasyarat partisipasi Indonesia dalam COP30. Ia menekankan bahwa NDC yang tengah disiapkan harus mampu memberikan dampak nyata bagi dunia usaha dan mendorong kolaborasi dengan seluruh pemangku kepentingan termasuk sektor swasta dan LSM.
Hashim menyoroti bahwa krisis iklim dan lingkungan adalah tantangan besar yang berkaitan langsung dengan masa depan generasi muda Indonesia. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Menteri Pemuda dan Olahraga serta Wakil Menteri Perdagangan yang masih muda, yang menurutnya mewakili generasi penerus yang akan menerima dampak dari kebijakan lingkungan hari ini. Ia menegaskan pentingnya membangun masa depan yang rendah emisi, ramah lingkungan, dan berkelanjutan.
Baca Juga
Dalam kesempatan yang sama, Hashim menyinggung situasi global yang memperumit upaya Indonesia mengurangi emisi. Ia mengingatkan bahwa kebijakan tarif terbaru dari Amerika Serikat berpotensi mengganggu kelancaran ekspor Indonesia serta memperberat beban industri nasional dalam upaya transisi energi bersih. Menurutnya, tarif sebesar 32 persen bisa dikenakan kepada Indonesia jika tidak segera menyesuaikan kebijakan dengan kehendak AS.
Ia menyebut pemerintah Indonesia saat ini diberi waktu hingga 1 Agustus 2025 untuk menyusun dan menyampaikan proposal akhir, yang sedang difinalisasi oleh Menko Airlangga bersama Pertamina dan Kementerian ESDM, terkait penyediaan LNG, crude oil, dan produk petroleum lainnya. "Dan saat ini Bapak Menko Perekonomian Pak Airlangga Hartarto sedang sibuk menyiapkan proposal atau tawaran kita yang final," ujarnya.
Hashim menjelaskan bahwa kebijakan tarif ini juga berkaitan erat dengan isu transshipment, di mana Amerika Serikat tidak hanya menargetkan produk “made in China”, tetapi juga produk-produk yang dibuat oleh perusahaan China di negara ketiga, termasuk di kawasan ASEAN. Hal ini tentu berdampak pada ekspor dan investasi di Indonesia karena ketergantungan terhadap bahan baku dari China masih cukup tinggi.
Menutup sambutannya, Hashim menyampaikan apresiasinya terhadap keberadaan ICDX yang selama 16 tahun telah berperan penting dalam menyediakan likuiditas dan mendukung dunia usaha melalui perdagangan komoditas.
Ia menyebut ICDX sebagai lembaga unik yang berada di bawah tiga lembaga pengawas sekaligus: Bappebti, Bank Indonesia, dan Otoritas Jasa Keuangan. Hashim berharap ICDX terus tumbuh menjadi platform perdagangan komoditas yang semakin bermanfaat bagi pertumbuhan ekonomi nasional dan mendukung transisi menuju ekonomi hijau yang berkelanjutan.
Dalam kapasitasnya sebagai pelaku dunia usaha, Hashim menegaskan bahwa kerja sama antara pemerintah, sektor swasta, dan lembaga internasional adalah kunci bagi Indonesia untuk berhasil menurunkan emisi, menjaga lingkungan, dan memperkuat posisi dalam diplomasi perubahan iklim di tingkat global.

