Kadin Dorong Transformasi Industri Lewat Inovasi Hijau dan Kolaborasi Riset
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id -- Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menegaskan pentingnya inovasi berbasis riset, kolaborasi lintas sektor, dan transformasi hijau sebagai kunci penguatan daya saing industri nasional sekaligus menjawab tantangan global terkait keberlanjutan. Hal tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Pembangunan Manusia, Kebudayaan dan Pembangunan Berkelanjutan Kadin Indonesia, Shinta Widjaja Kamdani dalam forum strategis bertema "Inovasi Kolaboratif: Meningkatkan Daya Saing Industri Melalui Riset, ESG, dan Solusi Hijau" yang digelar Kadin Indonesia bekerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan PT Alam Semesta Integra.
"Forum ini menjadi ajang penting untuk menyatukan visi antara pemerintah, dunia usaha, dan komunitas riset agar transformasi hijau tidak hanya menjadi wacana, tetapi mampu menghadirkan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan dan daya saing jangka panjang," kata Shinta di Menara Kadin, Kuningan, Jakarta, Selasa (8/7/2025).
Dirinya kemudian menyoroti tren peningkatan emisi karbon global yang mencapai rekor tertinggi 37,8 gigaton pada 2024 berdasarkan Global Energy Review 2025 oleh International Energy Agency. Di sisi lain, Indonesia sendiri tercatat mengeluarkan 651.671 metaton emisi karbon pada 2020, sebagian besar berasal dari penggunaan bahan bakar fosil.
"Ini menjadi tantangan sekaligus peluang bagi Indonesia untuk mendorong transformasi industri melalui teknologi rendah emisi," ujarnya.
Shinta juga mencontohkan inovasi dalam pengembangan teknologi photobioreactor mikroalga untuk penangkapan dan pemanfaatan karbon (carbon capture utilization and storage/CCUS) yang dilakukan PT Alam Semesta Integra bersama Organisasi Pengembangan dan Penelitian Karbon. Menurutnya, kolaborasi tersebut membuktikan bahwa riset tidak bisa berdiri sendiri, melainkan harus terhubung dengan kebutuhan industri.
Ia mengutip data ILO yang memperkirakan potensi terciptanya 14 juta lapangan kerja hijau baru di Asia Tenggara pada 2030 berkat teknologi hijau. Selain itu, strategi ekonomi hijau berbasis riset juga ditargetkan dapat berkontribusi hingga US$ 130 miliar terhadap PDB nasional.
"Inilah nilai tambah nyata dari sinergi riset dan industri yang tak hanya memperkuat rantai pasok, tetapi juga memperluas pasar produk ramah lingkungan," kata Shinta.
Sebagai wujud komitmen berkelanjutan, Kadin bersama mitra nasional dan internasional serta Kementerian Investasi akan menggelar Indonesia International Sustainability Forum (ISF) pada 10–11 Oktober 2025 di Jakarta. Forum tersebut akan menjadi wadah bertemunya pemimpin industri, pembuat kebijakan, peneliti, dan komunitas global untuk membahas solusi konkret menuju ekonomi berkelanjutan.
"Indonesia membutuhkan ekosistem inovasi yang responsif terhadap tantangan hari ini dan menciptakan nilai ekonomi jangka panjang. Teknologi hijau harus menjadi fondasi transformasi industri Indonesia," ujarnya.

