Meutya Hafid: Sukses DeepSeek Bukti Asia Siap Pimpin Revolusi AI Global
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi), Meutya Hafid, menyebut bahwa Asia, termasuk Indonesia, kini memainkan peran kunci dalam transformasi teknologi kecerdasan buatan (AI). Hal ini ditegaskannya dalam diskusi di acara Asia Economic Summit (AES), Jakarta, Kamis (26/6/2025).
Menurut Meutya menyinggung soal keberhasilan DeepSeek yang diluncurkan Desember 2024. Dengan modal hanya US$ 6 juta, model ini ternyata mengguncang industri AI global dan menyebabkan penurunan kapitalisasi pasar teknologi AS hingga US$ 593 miliar.
“Ini menunjukkan bahwa inovasi tidak harus mahal, tapi harus tepat sasaran. Asia telah membuktikan bahwa kita bisa mengejutkan dunia,” tegas Meutya.
Menkomdigi memaparkan bahwa adopsi AI di Asia-Pasifik jauh lebih tinggi dibanding Amerika dan Eropa. China memimpin dengan tingkat adopsi 75%, disusul India (70%), Australia dan Selandia Baru (75%), dan Asia Tenggara termasuk Indonesia di angka 65%.
“Indonesia jadi motor adopsi AI di ASEAN karena kita punya pengguna internet terbanyak di kawasan dan jumlah penduduk besar,” kata Meutya.
Baca Juga
China Diprediksi Lahirkan 100 Terobosan AI Selevel DeepSeek dalam 18 Bulan
Hasil survei BCG Asia-Pacific Gen AI 2024 turut mendukung hal itu. Pasalnya, sebanyak 16% perusahaan di kawasan sudah membuktikan nilai bisnis AI, 49% melihat potensi, dan 35% sedang tahap uji coba.
Sebagai perbandingan, di AS hanya 16% perusahaan startup yang sudah menguasai AI, dan di Uni Eropa hanya 12% yang siap secara kapabilitas.
“Data ini menunjukkan bahwa Asia benar-benar punya keunggulan sebagai motor transformasi AI global,” ungkap Menkomdigi.
Di Indonesia sendiri, pemanfaatan AI terus berkembang. Teknologi ini telah digunakan untuk deteksi hoaks, pengelolaan konten negatif, chatbot layanan publik, serta analisis data kesehatan seperti radiologi dan patologi.
Meutya menyebut bahwa AI juga mulai digunakan di bidang pertanian dan pangan, seperti membaca cuaca, memprediksi panen, dan mengatur distribusi. AI juga disebut menjadi tulang punggung pengembangan kota pintar dan reformasi layanan publik.
“SPBE 2025 akan menghubungkan seluruh birokrasi agar lebih transparan dan efisien,” ujar Meutya.
Untuk mendorong pemanfaatan AI yang lebih luas, pemerintah mendorong pembentukan pusat riset AI di kampus, pengembangan kurikulum, dan kolaborasi riset antara universitas dan industri. Meutya menekankan bahwa kunci utama adalah kolaborasi antara akademisi, pemerintah, dunia usaha, dan pemda.
“AI akan terasa manfaatnya oleh seluruh masyarakat jika semua pihak bergerak bersama. AI bukan hanya alat efisiensi, tapi refleksi nilai kemanusiaan. Etika, transparansi, dan partisipasi publik harus jadi fondasinya,” tutup politisi Partai Golkar itu.

