Menkomdigi Targetkan AI Sumbang 12% ke PDB Nasional, 'Roadmap' AI Rilis Agustus
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi), Meutya Hafid, menyatakan bahwa kecerdasan buatan (AI) berpotensi menyumbang hingga 12% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia, jika diimplementasikan secara efektif di berbagai sektor. Data ini disampaikannya dalam acara Asia Economic Summit di Jakarta, Kamis (26/6/2025).
“AI bukan lagi sekadar inovasi, tapi aset strategis nasional. Indonesia harus mengambil posisi, tidak sekadar beradaptasi, tetapi juga memimpin arah transformasi digital di kawasan,” jelas Meutya.
Untuk memperkuat hal tersebut, pemerintah tengah merampungkan white paper dan roadmap ekosistem AI nasional. Dokumen ini akan menjadi dasar tata kelola AI yang etis, inklusif, dan efektif.
Ditargetkan rampung pada Agustus 2025 dan akan diusulkan menjadi regulasi nasional, roadmap AI melibatkan kolaborasi lintas sektoral yang sangat besar, termasuk 39 kementerian dan lembaga, serta pihak swasta, akademisi, dan organisasi masyarakat sipil.
“Diskusinya sangat dinamis. Tapi ini penting agar regulasi yang lahir bersifat strategis dan berkelanjutan,” jelas Meutya.
Lebih lanjut, ekosistem AI nasional akan dibangun dari tiga pilar utama yakni kebijakan, pengembangan SDM, dan adopsi teknologi. Pilar pertama mencakup regulasi seperti UU ITE, UU Perlindungan Data Pribadi, dan Surat Edaran Etika AI dari Menkomdigi.
Pilar kedua fokus pada talenta digital melalui program peningkatan kompetensi SDM. Meutya menyebut pengembangan SDM sebagai kunci agar Indonesia tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tapi juga produsen inovasi berbasis AI.
Sementara pilar ketiga berkaitan dengan pengembangan platform teknologi yang spesifik per sektor. AI diarahkan untuk mendukung layanan publik, efisiensi birokrasi, hingga sektor pangan dan kesehatan.
Lima sektor prioritas yang disasar yakni kesehatan, reformasi birokrasi, pendidikan digital, pengembangan smart city, dan ketahanan pangan. AI dinilai dapat menjawab tantangan seperti distribusi pangan dan deteksi dini penyakit secara presisi.
“Presiden Prabowo menegaskan bahwa setiap tahun Indonesia harus memberi makan 5 juta jiwa tambahan. Ini tantangan besar yang bisa kita jawab lewat teknologi,” jelas Politisi Partai Golkar itu.
Meutya juga menyebut bahwa 92% tenaga kerja terampil di Indonesia telah menggunakan AI di tempat kerja. Angka ini bahkan melampaui rata-rata Asia Pasifik (82%) dan global (75%).
Dengan potensi tersebut, kolaborasi antara pemerintah pusat, daerah, akademisi, dan sektor swasta menjadi kunci keberhasilan implementasi AI nasional. Meutya menekankan pentingnya membangun kepercayaan publik dalam pengembangan AI.
“AI harus menjadi alat untuk memperkuat martabat bangsa, menjunjung keadilan, dan memperluas kesejahteraan. Seperti kata Albert Einstein, semangat manusia harus mengalahkan teknologi. Maka, mari jadikan AI cahaya peradaban, bukan bayang-bayang kehancuran,” pungkas Menkomdigi.

