Bagikan

Berdampak Besar Ke Petani, Ewindo Perbanyak 'Learning Farm'

JAKARTA, investortrust.id - Langkah PT East West Seed Indonesia (Ewindo) untuk mendorong kesuksesan petani Indonesia dalam budidaya sayuran melalui learning farm atau sekolah lapangan petani memberikan hasil signifikan. Hal ini membuat Ewindo terus memperbanyak fasilitas layanan ini di berbagai sentra pertanian agar menjadi pusat pembelajaran yang efektif untuk petani.

Managing Director Ewindo Glenn Pardede mengatakan, pembangunan learning farm atau sekolah lapang ini merupakan perwujudan komitmen perusahaan untuk secara berkelanjutan mendukung kesuksesan petani dalam budidaya sayuran. Selain sebagai tempat transfer pengetahun dan alih teknologi bagi petani, kegiatan ini sekaligus menjadi wadah pembinaan masyarakat, dewasa dan anak-anak, untuk lebih mencintai sayuran dan dunia pertanian. 

Sejak pertama kali diluncurkan tahun 2022 Ewindo kini telah membangun delapan learning farm di berbagai daerah di Indonesia, di antaranya di Batubara, Lampung Timur, Karawang, Magelang, Malang, Banyuwangi, Hulu Sungai Selatan, dan Gowa yang masing-masing memiliki luas lahan rata-rata 1 hektar. Ewindo juga berencana untuk terus menambahnya hingga mencapai 20 Learning Farm di berbagai daerah untuk memberikan edukasi kepada petani cara bercocok tanam yang baik agar hasilnya bisa optimal.

 

Baca Juga

Luncurkan 27 Varietas Benih Sayuran Berkualitas, Ewindo Wujudkan Inovasi Berkelanjutan

Selain alih teknologi, Ewindo juga mempermudah akses petani terhadap benih-benih unggul berkualitas tinggi. Sejak beroperasi 35 tahun lalu di Indonesia, Ewindo telah mengenalkan hampir 300 benih sayuran unggul yang telah membantu petani Indonesia untuk mencapai panen makmur. Perusahaan secara berkelanjutan mengembangkan dan fokus pada benih berkualitas tinggi, produktif, usia panen singkat, tahan penyakit, dan sesuai preferensi pasar serta memastikan ketersediaan benih sepanjang musim tanam, dengan jaringan distribusi nasional. 

“Ewindo sebagai perusahaan yang berbasis teknologi modern di bidang pertanian percaya melalui pembangunan Learning Farm dan kerja sama dengan semua pemangku kepentingan dapat membantu Pemerintah mencapai swasemba produk hortikultura sekaligus mewujudkan komitmen perusahaan menjadi sahabat petani yang paling baik,” tutup Glenn dalam siaran pers dikutip Sabtu (21/6/2025).

Jumadi (60), petani senior dari Jawa Tengah, menyampaikan bahwa selama puluhan tahun menjadi petani, ia terus mencari ilmu lewat berbagai komunitas dan eksperimen pribadi. Namun, kehadiran Learning Farm mempercepat proses pembelajaran itu secara nyata. “Learning farm itu menyediakan praktisi sehingga petani-petani yang menghadapi kendala dapat langsung bertanya dan menemukan solusi. Yang dibutuhkan petani sebenarnya itu,” katanya.

Laki-laki yang banting stir dari karyawan sebuah perusahaan swasta menjadi petani itu menekankan pentingnya pendekatan learning by doing yang diterapkan learning farm. Petani tidak hanya mendengar teori, tetapi melihat langsung perbandingan hasil antara metode lama dan metode baru berbasis teknologi dan ilmu.

 

Baca Juga

Ewindo Bangun Fasilitas Penelitian dan Pengembangan Benih Hortikultura Nasional


Sementara itu, Chairani (50), petani dari Kalimantan Selatan, menyoroti pentingnya keberadaan Learning Farm sebagai pusat edukasi berbasis praktik dan mampu mengubah keraguan menjadi keyakinan. Petani yang semula takut gagal, kini berani mencoba varietas dan teknik baru karena telah melihat bukti nyata.

Lebih dari itu, Chairani juga menyampaikan bahwa melalui learning farm, petani di Kalimantan Selatan bisa mengatasi kendala khas wilayah mereka seperti pH tanah yang sangat rendah.

“Petani itu sering seenaknya sendiri. Tapi begitu melihat penjelasan di learning farm, mereka jadi lebih tertata. Penjelasannya mudah dipahami dan bisa langsung diaplikasikan. Dengan perlakuan seperti di learning farm, pH tanah kami bisa naik dari 3 ke 6. Dampaknya sangat luar biasa,” katanya.

Learning farm telah berdampak langsung pada peningkatan produksi, efisiensi biaya, dan pemahaman teknologi baru. Dari sekadar bertani berdasarkan insting dan kebiasaan turun-temurun, kini petani bergerak ke arah pertanian berbasis ilmu dan data. Para petani juga merasa memiliki tanggung jawab moral untuk menularkan ilmu ke rekan-rekan petani lainnya. Hasil akhirnya bukan hanya tanaman yang subur, tetapi juga petani yang lebih percaya diri, lebih mandiri, dan lebih siap menghadapi tantangan zaman. 

The Convergence Indonesia, lantai 5. Kawasan Rasuna Epicentrum, Jl. HR Rasuna Said, Karet, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Pusat, 12940.

FOLLOW US

logo white investortrust
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor1188/DP-Verifikasi/K/III/2024