Strategi Pertamina Hadapi Krisis Global dan Rebut Pasar Kapal Internasional
JAKARTA, Investortrust.id – Selaras upaya pemerintah mendorong perekonomian nasional, PT Pertamina International Shipping (PIS) selaku subholding integrated marine logistics (SH IML) PT Pertamina (Persero) menyiapkan strategi untuk menghadapi ketidakpastian global guna menjaga kinerja perusahaan. PIS akan merebut atau mengoptimalkan pasar kapal di Asia yang terus meningkat dengan melakukan peremajaan armada.
Hal ini dipaparkan Direktur Utama PT Pertamina Trans Kontinental (PTK) I Ketut Laba, yang mewakili subholding integrated marine logistics pada acara sesi panel "Market Outlook for Shipping" di Jakarta, dikutip dalam keterangannya, Rabu (18/6)/2025.
Ia memaparkan, saat ini tren pertumbuhan ekonomi masih di sekitar 5%, diikuti permintaan minyak domestik yang diperkirakan naik 4,5% serta pengapalan minyak tumbuh 5%. Di tengah tren positif tersebut, ia menilai, pertumbuhan jumlah kapal di Asia belum bisa mengimbangi lonjakan pasar yang diperkirakan hanya naik 2,5% per tahun, serupa dengan pertumbuhan jumlah kapal berbendera Indonesia.
"Ketersediaan jumlah dan keandalan kapal diperkirakan jadi pekerjaan rumah yang perlu ditangani guna mengejar kebutuhan pasar," kata I Ketut Laba.
Baca Juga
Perang Iran-Israel Bikin Minyak Melejit ke US$ 78,50, Pertamina Naikkan Harga BBM?
Dia mengatakan, strategi Pertamina adalah mengembangkan kekuatan armada dan menurunkan usia rata-rata kapal atau peremajaan armada. Upaya ekspansi ini tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan domestik yang akan terus meningkat, tetapi menangkap peluang bisnis di pasar internasional dengan menyediakan armada andal serta memenuhi regulasi.
PT Pertamina International Shipping (PIS), yang menaungi PTK saat ini mengelola lebih 700 kapal, dengan 106 kapal milik yang diawaki 10.000 pelaut. PTK sendiri berkontribusi terhadap 402 kapal dari total armada.
PIS juga terus memperbarui armadanya dengan sejumlah kapal tanker baru yang dilengkapi teknologi mumpuni untuk memenuhi kebutuhan pengangkutan. Total ada 11 armada tanker baru yang PIS hadirkan sepanjang 2024, termasuk empat kapal very large gas carrier (VLGC). Dengan penambahan unit baru tahun ini, PIS kini memiliki tujuh tanker VLGC dengan rerata usia 3,42 tahun.
"Selain perawatan armada, kami juga terus memperbarui teknologi dan ramah lingkungan. Dengan demikian, kami tidak hanya bisa memenuhi kebutuhan domestik, tapi juga dapat menangkap potensi pengangkutan internasional secara maksimal," pungkas I Ketut Laba.
Baca Juga
Sesuai Spesifikasi, Pertamina Lanjutkan Kajian Impor Minyak dari AS
Dalam kesempatan yang sama, COO Caravel Group sekaligus Chairman The Hong Kong Shipowners Association Ltd Angad Banga mengatakan, menjaga ketersediaan kapal bukan tanpa tantangan sama sekali. Salah satu persoalan yang dihadapi industri pelayaran adalah armada yang semakin berumur.
"Kondisi tersebut mengharuskan peremajaan armada untuk perdagangan ekspor, domestik, serta kebutuhan bahan bakar yang ditentukan untuk pengangkutan tertentu."
Sementara Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Anindya Bakrie menyebut pemerintah saat ini terus menggenjot intensitas perdagangan berbagai sektor dengan negara mitra strategis, seperti China, Amerika Serikat, Uni Eropa, negara anggota BRICS. Dengan kondisi demikian, Anindya meyakini industri pelayaran akan semakin cerah hingga beberapa tahun ke depan. "Semua itu akan membutuhkan ketersediaan jumlah kapal yang banyak," ujar Anindya.

