Geo Dipa: PLTP Geothermal Siap Jadi Base Load Rendah Karbon, Tapi Masih Ada Tantangan
JAKARTA, investortrust.id — PT Geo Dipa Energi memaparkan kelebihan dan tantangan dalam pengembangan pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) atau geothermal di Indonesia. Energi geothermal diharapkan dapat menjadi alternatif pengganti pembangkit listrik tenaga batu bara sebagai sumber energi base load yang ramah lingkungan, seiring dengan upaya transisi menuju energi rendah karbon.
PLTP memiliki karakteristik operasional yang sangat cocok untuk base load, yakni mampu beroperasi secara terus-menerus dan stabil dalam memenuhi kebutuhan listrik dasar yang konsisten selama 24 jam.
CEO Geo Dipa Energi, Yudistian Yunis, menjelaskan bahwa salah satu keunggulan utama energi panas bumi dibandingkan pembangkit batu bara adalah tidak perlunya pembelian bahan baku. Panas bumi sudah tersedia secara alami di dalam bumi dan bisa langsung dimanfaatkan. Berbeda dengan pembangkit batu bara atau gas yang harus membeli energi primer terlebih dahulu.
“Kita tidak perlu (menyiapkan) seperti yang dilakukan pembangkit batu bara atau gas, yang harus membeli energi primer. Dalam geotermal, kita sudah mengambil energi primer yang tersedia,” ujar Yudistian dalam acara International Conference on Infrastructure, Rabu (11/6/2025).
Baca Juga
Yudistian menambahkan, geothermal sangat ideal untuk dimasukkan dalam sistem jaringan listrik (grid system). Dibandingkan dengan pembangkit energi terbarukan lain seperti tenaga surya atau angin yang bersifat intermiten (tidak stabil), PLTP dapat memberikan suplai listrik yang lebih stabil dan berkelanjutan sesuai dengan kebutuhan dasar sistem.
Meski memiliki keunggulan sebagai pembangkit base load, Yudistian mengakui bahwa saat ini PLTP belum mampu berfungsi sebagai load follower, yaitu pembangkit yang bisa dengan cepat menyesuaikan output sesuai fluktuasi permintaan. Hal ini menjadi tantangan tersendiri, terutama jika pembangkit diharapkan bisa memenuhi kebutuhan besar secara mendadak, seperti untuk pabrik smelter.
“Geothermal belum bisa digunakan sebagai load follower, dan juga belum optimal untuk kebutuhan besar seperti smelter. Itu adalah keterbatasan saat ini. Saya pikir ini menjadi tantangan ke depan jika kita ingin masuk ke grid, sekaligus bisa mendukung peran sebagai base load maupun load follower,” jelasnya.
Dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034, pemerintah menargetkan penambahan kapasitas PLTP sebesar 5,2 gigawatt (GW) hingga 2034. Saat ini, kapasitas PLTP terpasang di Indonesia mencapai 2,68 GW, menjadikan Indonesia sebagai negara dengan kapasitas PLTP terbesar kedua di dunia setelah Amerika Serikat yang memiliki 3,6 GW.

