Miliki Kesamaan Ciri Geografi dan Iklim, India Tawarkan Kerja Sama Pengembangan Produk Pangan
JAKARTA, Investortrust.id – Indonesia memiliki banyak kesamaan dari sisi ciri geografis serta iklim dan kondisi cuaca yang serupa dengan India. Dengan kesamaan tersebut sejatinya Indonesia bisa menjalin kerja sama dalam pengembangan sektor pangan dengan India yang saat ini merupakan salah satu negara dominan sebagai produsen bahan pangan di dunia.
“Saya merasa bahwa India dan Indonesia memiliki ciri geografi yang mirip, kondisi cuaca yang serupa, dan selera makan yang serupa. Jadi ada banyak hal di bidang pangan yang bisa kita lakukan bersama,” kata Malvika Priyadarshini selaku Konselor Ekonomi & Perdagangan, Kedutaan Besar India di Jakarta kepada Investortrust.id.
Salah satunya ia menyebut kerja sama teknologi pengembangan bahan pangan untuk meningkatkan produktivitas. Apalagi saat ini telah tersedia cukup banyak riset mengenai pengembangan bahan pangan di India.
Sebagai bentuk pembuka upaya ke arah kerja sama tersebut, hari ini tengah digelar ajang ‘Buyer and Seller Meet’ di Jakarta, oleh Federation of Indian Export Organisations (FIEO) salah satu organisasi ekspor pangan dari India yang bekerja sama dengan Kedutaan Besar India. Event ini menurut Malvika akan membuka potensi penawaran kerja sama di bidang pengembangan produk pangan. Salah satunya memaksimalkan difersifikasi bahan pangan dengan mengeksplorasi millet atau biji-bijian yang banyak dihasilkan di India.
Disampaikan Malvika, India sebagai salah satu negara pengekspor biji-bijan dunia, bisa menawarkan Indonesia untuk membudidayakan millet atau biji-bijian di Tanah Air. Salah satu jenis millet yang mulai populer di Indonesia adalah sorgum.
Seperti diberitakan, pemerintah Indonesia melalui Badan Pangan Nasional (Bapanas) memulai penanaman perdana sorgum pada pertengahan Juli tahun 2023 lalu di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Disampaikan Kepala Bapanas Arief Prasetyo Adi saat itu, penanaman sorgum merupakan salah satu upaya pemerintah Indonesia membangun tata kelola pangan terintegrasi hulu hilir dalam kerangka kesiapsiagaan krisis pangan.
Malvika menganggap apa yang telah dilakukan pemerintah Indonesia sudah tepat dengan mulai mencari diversifikasi pangan di luar beras, seperti millet jenis sorgum. India sendiri bisa berbagi ilmu soal budi daya sorgum yang baik, agar tingkat produktivitas per hektare dari areal penanaman sorgum bisa maksimal.
Ia pun menyitir apa yang pernah disampaikan oleh Kepala Bapanas Arief Prasetyo Adi ketika Kedubes India menggelar Festival Millet ASEAN-India belulm lama ini. Saat itu Kepala Bapanas yang hadir dalam acara tersebut mengatakan bahwa ada dua hal yang sangat menarik dari ajang festival biji-bijian yang digelar pemerintah India.
“Pertama, India dan Indonesia dapat bekerja sama dalam pemupukan mikro yang dapat membantu meningkatkan produktivitas. Kedua, dia (Kepala Bapanas, red) mengatakan bahwa Indonesia bisa mempelajari teknologi yang digunakan India untuk meningkatkan produktivitas millet per hektarenya, dia senang bisa mengadopsi tanaman ini untuk diversifikasi,” kata Malvika mengutip pernyataan Kepala Bapanas RI.
Sementara itu dari sisi Indonesia, bisa memanfaatkan kelebihan ketersediaan buah-buahan eksostis asal dalam negeri untuk bisa dipasarkan ke India.
“Jadi ada seluruh rentang kerjasama yang mungkin bisa memenuhi kebutuhan ketahanan pangan kita, yang dapat memenuhi kebutuhan makanan sehat kita,” imbuhnya.
Di luar soal varietas pangan yang proses budi dayanya bisa didapat lewat transfer pengetahuan dari India, Indonesia juga bisa menggali ilmu soal penerapan teknologi demi meningkatkan kapasitas produksi produk pertanian, hingga perikanan.
Menurut Malvika, di India telah tumbuh begitu banyak startup-startup yang bergerak di sejumlah esktor industri, termasuk pangan. Setidaknya para pelaku usaha di Indonesia bisa memperdalam pemahaman mereka soal pentingnya dan potensialnya pengembangan startup yang bergerak di sektor pangan, atau yang menjadi pendukung pengembangan sektor pangan.
Dalam kesempatan serupa, Direktur Industri Makanan, Hasil Laut dan Perikanan Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Dyan Garneta mengungkapkan, kinerja ekspor Indonesia ke India masih menunjukan torehan positif di tahun lalu, dengan nilai mencapai US$ 3,8 miliar.
“Tahun kemarin itu kita US$ 3,8 miliar ekspor ke India ekspor per November 2023, jadi belum sampai akhir tahun,” katanya, kepada Investortrust.id, usai acara B2B Event of Food & Agri Exporters to Indonesia, di Jakarta, Selasa (16/1/2024).
Ia optimistis, capaian ekspor ke India tersebut akan semakin meningkat di tahun ini seiring dengan upaya pemerintah yang terus mendorong kenaikan produk domestik bruto (PDB) di dalam negeri.

